Bisanlais dan Pedang Pusaka

Penulis: David Solafide (Alm) I Editor: Edi Kusumawati

Bisanlais dan pedang Pusaka (http://www.amazon.com/)

Meskipun Baginda Anaskajib bisa membaca pikiran orang dan melihat nasib seseorang, Baginda Anaskajib tidak bisa mengubah nasib siapapun dan tidak boleh memberitahu kepada orang lain mengenai nasib seseorang. Suatu hari, Baginda memanggil Bisanlais, salah seorang pegawainya.

Bisanlais adalah seorang pegawai Kerajaan Pringgading yang bertugas untuk menjaga pintu gerbang istana.  Akan tetapi Bisanlais adalah seorang pegawai yang malas. Dia seringkali tertidur saat bertugas. Dia juga suka mengomel dan menggerutu tentang tugasnya. Dia sangat ingin naik pangkat menjadi komandan jaga. Raja mengetahui akan hal itu.

“Berikan pedang pusaka dan surat ini kepada Panglima Amatmat di Hutan Gondorupo.” raja memberi perintah kepada Bisanlais.

“Hutan?” Bisanlais berkata dalam hati. Dia sangat takut berada di dalam hutan. Dia takut bertemu binatang buas, atau memedi, atau para pemberontak yang akhir-akhir ini sering membuat kerusuhan. Akan tetapi raja telah memberi perintah, maka Bisanlais harus pergi menuju Hutan Gondorupo dengan membawa pedang pusaka dan sepucuk surat dari raja.

Dari kejauhan Bisanlais mendengar suara orang berperang. Dia menjadi takut. “Pastilah pasukan Panglima Amatmat sedang berperang melawan para pemberontak.” pikirnya. Bisanlais mengendap-endap mendekati suara itu. Ternyata benar, di sana sedang terjadi peperangan yang dahsyat. Bisanlais menjadi semakin ketakutan. Dia bersembunyi di balik semak-semak. Tubuhnya gemetar. Dia ingin memberikan pedang pusaka dan surat itu kepada Panglima Amatmat dan segera pergi dari situ. Akan tetapi dia tidak berani memperlihatkan diri. Dia tetap bersembunyi.

“Dasar Baginda Anaskajib tidak bijaksana, kenapa harus aku yang melaksanakan tugas ini?” Bisanlais mulai menggerutu.
Seorang prajurit mendatangi semak-semak tempat Bisanlais bersembunyi. Prajurit itu berhenti sejenak. Bisanlais gemetaran. Dia membalikkan badan dan merapatkan tubuhnya di balik sebatang pohon.
Tiba-tiba Bisanlais merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya. Dia melirik ke arah benda itu, sebilah pedang. Karena sangat ketakutan, Bisanlais ngompol.

“Hei, kamu mata-mata ya?” kata prajurit itu.

“Buk…bukan. Saya bukan mata-mata,” kata Bisanlais. Keringat dingin membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. “Saya utusan Raja Anaskajib.”
Prajurit itu menarik kembali pedangnya. “Ada keperluan apa sampai Baginda mengutusmu datang ke sini?”

Bisanlais merasa agak lega, meskipun tubuhnya masih gemetaran. “Saya diutus untuk memberikan pedang pusaka dan sepucuk surat ini kepada Panglima Amatmat.” Bisanlais memperlihatkan benda berharga yang dibawanya.

“Panglima Amatmat sedang memimpin pertempuran. Ikutlah saya, kamu akan saya pertemukan dengan beliau,” kata prajurit itu.
“Ah, tidak. Terima kasih. Apakah tuan prajurit bisa menyampaikan pedang pusaka dan surat ini kepada Panglima Amatmat?” Bisanlais meminta bantuan kepada sang prajurit.

“Kenapa harus begitu? Bukankah itu perintah raja? Raja memerintahkan agar kamu menyerahkan sendiri pedang pusaka dan surat itu kepada Panglima Amatmat.” prajurit itu bertanya.
“Ah, yang penting pedang pusaka dan surat ini bisa sampai kepada Panglima Amatmat.” jawab Bisanlais.
“Baiklah!” Prajurit itu menerima pedang dan surat untuk diberikan kepada sang panglima perang.

Bisanlais masih belum berani beranjak dari persembunyiannya. Tubuhnya masih gemetaran.
“Hentikan pertempuran!” Panglima Amatmat memberi perintah kepada para prajurit, setelah dia menerima pedang dan membaca surat dari raja.

“Perhatian! Dengarkan maklumat Baginda Anaskajib, Raja Kerajaan Pringgading. Bahwa siapa yang menyerahkan pedang pusaka ini kepada Panglima Amatmat akan diangkat menjadi kepala pasukan. Dengan maklumat raja, saya mengangkat Prajurit Caberawit, yang menyerahkan pedang ini kepada saya, menjadi kepala pasukan pengintai yaitu pasukan Gagak Hitam.” kata Panglima Amatmat. “Sekarang, latihan perang dilanjutkan.”

Mendengar hal itu, Bisanlais hanya bisa menyesali diri. Jika saja dia yang memberikan pedang pusaka dan surat itu kepada Panglima Amatmat, maka dialah yang akan diangkat menjadi kepala pasukan. Dan penyesalan tinggallah menjadi penyesalan.

Pesan moral:
Sifat pengecut tidak mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik.

 

 

 

Share

About roni