Monyet yang Sombong dan Kura-Kura yang Rendah Hati

Penulis: Hesya Permana l Editor: Langit, Edi Kusumawati   Kabar burung elang cepat tersiar. Bahwa kancil kalah balapan lari sama kura-kura! Kabar ini terdengar juga oleh monyet. Masa, kancil kalah […]

Penulis: Hesya Permana l Editor: Langit, Edi Kusumawati

 

Kabar burung elang cepat tersiar. Bahwa kancil kalah balapan lari sama kura-kura! Kabar ini terdengar juga oleh monyet. Masa, kancil kalah balap lari sama kura-kura? Aku lebih pintar dari kancil! Apalagi kura-kura! Monyet  pun bertekad untuk mencoba mengadu kepandaian dengan kura-kura. Aku akan menantang kura-kura berlomba menanam pisang. Pohon pisang siapa yang lebih cepat berbuah. Aku sudah tahu caranya!

Di pagi yang cerah, di pinggir sungai, seekor kura-kura sedang asyik melihat para petani sedang menanam padi, ada juga yang sedang menanam pisang, jagung dan kacang panjang.

Datanglah seekor monyet yang ingin menjajal kepandaian kura-kura.

“Hai kura-kura, mari kita berlomba menanam pisang. Pohon pisang siapa nanti yang duluan berbuah!”

“Untuk apa kita berlomba menanam pisang? Aku belum bisa dan belum pernah menanam pisang,” jawab kura-kura.

“Katanya kamu menang balapan lari sama kancil? Sekarang mari kita berlomba menanam pisang! Pokoknya kalau kamu kalah, kamu tidak boleh lagi muncul ke darat! Kamu hanya boleh hidup di dalam sungai. Aku tidak akan kalah seperti kancil! Aku lebih pandai dari Kancil. Bagaimana kura-kura, berani?” Monyet menantang kura-kura dengan sombongnya.

“Baiklah kalau begitu, besok kita mulai. Tuh disitu ada lahan kosong punya pak tani,” jawab kura-kura.

Maka keesokan harinya seekor kura-kura dan seekor monyet kelihatan sedang sibuk membuat lubang untuk ditanami pisang. Kura-kura menanam pohon pisang yang masih kecil, meniru pak tani yang dilihatnya waktu menanam pisang. Anehnya yang ditanam monyet bukan pohonnya, tetapi jantung pisangnya!

“Sudah selesai kura-kura? Kok lama sekali? Hahahahaha… menanamnya saja lama, kapan berbuahnya?” Monyet mentertawakan kura-kura, mengejek.

“Lihat saja nanti!” jawab kura-kura sambil terus menimbun lubang yang sudah ada pohon pisangnya.

Setelah selesai menanam jantung pisangnya, monyet ngeloyor pergi meninggalkan kura-kura yang masih belum selesai merapihkan tanaman pohon pisangnya. Monyet merasa bahwa dia pasti akan menang.

Monyet (http://fineartamerica.com)

**

Sehari, dua hari, hampir tiap hari monyet dan kura-kura melhat tanaman pisang mereka. Monyet merasa yakin sekali bahwa tanaman pisangnya yang akan cepat berbuah. Monyet berpikir  bahwa buah pisang keluar dari jantung pisang, kenapa harus pohonnya yang ditanam? Kalau langsung jantungnya yang ditanam,  berarti akan lebih cepat keluar buahnya. Monyet lupa bahwa jantung pisang keluar dari pohon pisang!

Hampir tiap hari monyet mengejek kura-kura yang rajin menyirami pohon pisangnya, menyiangi rumput-rumput yang tumbuh di sekitarnya, menggemburkan tanahnya. Disekelilingnya dipagari bambu. Sedangkan monyet hanya duduk bermalas-malasan saja sambil melihat kura-kura yang sedang rajin bekerja.

Tiga minggu telah berlalu.

“Kura-kura?” tanya monyet

“Kuk!” jawab kura-kura

“Bagaimana tanaman pisangmu?” tanya monyet lagi.

“Sudah tumbuh daun baru empat lembar, tingginya tambah satu meter. Bagaimana punya kamu?” jawab kura-kura.

“Masih …atung…tambah eot….ae!” jawab monyet (masih jantung tambah peot bae, bahasa sunda), artinya masih berupa jantung tambah kurus saja.

Begitulah tanya jawab monyet dan kura-kura tiap hari. Biasanya monyet yang bertanya duluan, dijawab oleh kura-kura “Kuk”. Dan kalau kura-kura bertanya, dijawab oleh monyet “Masih atung, tambah eot ae!”

Satu bulan, dua bulan…

Dan keluarlah jantung pisang di antara daun-daun pisang, pohon pisang punya kura-kura. Sedangkan jantung pisang yang di tanam monyet malah tambah kurus, layu dan membusuk!

“Kura-kura?” tanya monyet.

“Kuk!” jawab kura-kura.

“Bagaimana tanaman pisangmu?”

“Sudah keluar jantungnya, sebentar lagi berbuah. Bagaimana punya kamu?” jawab kura-kura balik bertanya kepada monyet.

Monyet tidak langsung menjawab pertanyaan kura-kura. Mungkin malu atau apa,  dia ngeloyor pergi meninggalkan kura-kura.

“Kura-kura kamu memang pandai. Aku terima kalah, dan kamu boleh hidup di darat.”

Kura-kura tidak berkata apa-apa, matanya berkaca-kaca mau menangis.

“Terima kasih Tuhan. Engkau telah menolong aku!” ucap kura-kura sambil menangis.

Kura-kura bersyukur (http://forumserver.twoplustwo.com)

 


Share

About ronal