Keong Emas

Penulis: Dian | Editor: Edi Kusumawati

Keong mas

Di sebuah desa, tinggallah seorang janda tua. Namanya Mbok Randa Dadapan. Ia hidup seorang diri di rumah kecilnya yang berada di tepi hutan. Pekerjaan sehari-harinya adalah mencari kayu bakar di hutan, lalu menjualnya ke pasar. Setiap hari ia mencari kayu bakar di hutan. Keesokan harinya, ia membawanya ke pasar. Begitu terus yang ia lakukan.

Setiap pergi ke hutan ia harus melewati sebuah sungai yang cukup lebar, tetapi sungai itu dangkal. Di sana pula ia membasuh tubuhnya yang lelah setelah bekerja seharian.

Hari itu, sepulang dari hutan mencari kayu bakar, Mbok Randa Dadapan singgah ke sungai untuk sekadar membersihkan tubuhnya. Tiba-tiba dilihatlah sebuah benda berkilau di dalam air. Diambilnya benda itu. Ternyata sebuah keong. Keong itu berwarna kuning keemasan, tampak berkilauan diterpa sinar matahari. Mbok Randa pun tertarik untuk membawanya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Mbok Randha meletakkan keong itu pada tempayan.

Ada keong di sungai (http://2.bp.blogspot.com)

Keesokan harinya, Mbok Randa pergi ke pasar untuk menjual kayu bakar. Setelah kayu bakarnya laku, ia pun membeli barang kebutuhannya seperti beras, ikan, dan lain-lain. Ia pun pulang kembali ke rumahnya. Namun alangkah terkejutnya ia ketika sampai di rumah, ia mendapati rumahnya dalam keadaan bersih. Lantai rumah dan halamannya sudah tersapu. Padahal ia ingat sekali kalau tadi pagi tak sempat menyapu rumahnya karena harus berangkat pagi-pagi sekali.

Ketika memasuki rumahnya, ia semakin terkejut. Di dapur ia melihat sudah tersedia makanan untuk makan siang hari ini. Ia pun merasa senang sekali. Dengan lahap dimakannya hidangan yang sudah tersedia itu.

Esok harinya, kejadian ini pun terulang lagi. Sepulang Mbok Randa mencari kayu bakar di hutan, ia selalu mendapati rumahnya dalam keadaan bersih dan makanan pun telah tersedia di dapur.

Karena hal ini terjadi terus menerus, maka ia pun hendak mengetahui siapa yang telah berbaik hati mengurus rumahnya. Esok harinya, ia pura pura pergi ke hutan. Ditutupnya pintu rumahnya dari luar. Kemudian ia pun pergi meuju arah hutan. Namun diam-diam ia kembali ke rumah melalui jalan yang berbeda. Dari belakang rumah, ia pun mengintip ke dapurnya.

Alangkah terkejutnya ia, tiba tiba saja dilihatnya seorang putri keluar dari tempayan tempatnya menyimpan keong emas yang ditemukan di sungai beberapa hari yang lalu. Jadi, inilah jawaban atas keingintahuannya. Keong emas itu menjelma menjadi seorang putri. Putri itu kemudian melakukan pekerjaan rumah Mbok Randa yaitu menyapu dan menyiapkan makan siang.

Mbok Randa pun penasaran ingin mengetahui siapakah sebenarnya putri yang berasal dari keong emas itu. Ia pun segera masuk ke dapur. Alangkah terkejutnya putri itu mengetahui Mbok Randa datang tiba-tiba. Ia pun segera lari masuk ke tempayan lagi, tetapi Mbok Randa sudah mendahuluinya mengambil cangkang keong emas tempatnya bersembunyi.

“Kamu tak bisa berubah menjadi keong emas lagi Putri!” kata Mbok Randha. “Katakan padaku, siapa sebenarnya dirimu ini?” lanjutnya.

“Mbok Randa, ketahuilah aku ini adalah Dewi Candrakirana. Aku disihir menjadi keong emas ini karena Dewi Galuh merasa iri kepadaku yang ditunangkan dengan Raden Panji.“ kata Putri itu.

Mendengar bahwa putri jelmaan keong emas itu adalah putri raja, Mbok Randa pun bersimpuh di hadapannya.

“Bangkitlah Mbok Randa, aku berterima kasih karena engkau telah membawaku dari sungai. Namun aku tak akan dapat berubah menjadi manusia kembali jika tidak ada lelaki yang mencintaiku dengan sepenuh hati. Karena itulah Mbok, aku minta agar engkau tetap merawatku di sini dan aku akan membantu pekerjaanmu di rumah.”

“Baiklah Putri.” jawab Mbok Randa. Ia merasa sangat kasihan kepada Dewi Candrakirana. Namun ia tak bisa mengubah takdir yang sedang dijalani oleh Sang Dewi.

Hari pun berganti hari. Syahdan, Raden Panji yang tiba-tiba ditinggalkan oleh tunangannya tanpa kabar merasa sangat kehilangan. Ia pun mencari Dewi Candra Kirana sampai ke pelosok negeri bersama seorang pengawalnya. Setelah melewati berbagai desa, kota, hutan, gunung, lembah, jurang, dan sungai, sampailah Randen Panji ke tepi hutan tempat tinggal Mbok Randa Dadapan. Sesampainya di sana, ia merasa sangat lelah dan hendak beristirahat.

Kebetulan Mbok Randa sedang ke pasar menjual kayu bakar sehingga rumah tampak sepi. Dilihatnya rumah itu tampak asri, meskipun reot. Di halaman rumah terdapat berbagai macam bunga, sedangkan dibagian samping dan belakang rumah terdapat berbagai macam sayuran. Sungguh menyenangkan bila dipandang.

Beberapa saat kemudian, Mbok Randa pun datanglah dari pasar. Ketika dilihatnya dua orang sedang beristirahat di teras rumahnya, ia pun menyapa mereka.

Rumah Mbok Randa selalu bersih (http://www.drawingstep.com)

“Maaf Ki Sanak, kalau boleh tahu, siapakah gerangan Ki Sanak?”

Raden Panji pun menjawab ”Ketahuilah Mbok. Aku adalah putra Raja Jenggala, namaku Raden Panji dan ini pengawalku.”

“Raden Panji?” tanya Mbok Randa terkejut.

“Iya Mbok. Aku ke sini hanya sekadar singgah dalam perjalananku yang panjang.” sahut Raden Panji.

“Raden, silakan masuk dulu kalau begitu. Saya sediakan sedikit air minum untuk Raden.” Kata MbokRanda sambil berpikir bagaimana caranya memberitahu Raden Panji.

Mereka pun disuguhi makan dan minum oleh Mbok Randa.

“Raden, kalau boleh saya tahu, apakah Raden mencari sesuatu dalam perjalanan panjang Raden?” tanya Mbok Randa hati hati.

“Ya Mbok Randa. Aku mencari tunanganku yang tiba-tiba menghilang dari keraton. Namanya Dewi Candrakirana.”

“Dewi Candrakirana?”

“Ya Mbok. Apakah kamu pernah bertemu dengannya?”

“Ee…. Bagaimana ya?“ gumam Mbok Randa ragu. Beberapa saat kemudian,  Mbok Randa pun menceritakan tentang keong emas yang merupakan jelmaan Dewi Candrakirana.

“Benarkah ceritamu itu Mbok?” tanya Raden Panji setengah tak percaya.

“Benar Raden, mari kita ke dapur sekarang!” kata Mbok Randa.

Mereka pun kemudian menuju ke dapur tempat Mbok Randa meyimpan tempayan. Diperlihatkannya keong emas itu kepada Raden Panji. Raden Panji pun mengangkat keong itu dari tempayan. Tiba-tiba terjadilah keajaiban. Keong itu seketika berubah menjadi Dewi Candrakirana.

“Kakanda!” kata Dewi Candrakirana sambil menghaturkan sembah kepada Raden Panji.

“Adinda, syukurlah akhirnya kita dapat bertemu di sini.”

“Semua ini karena Dewi Galuh yang merasa sirik kepadaku Kakanda. Dia menyuruh penyihir untuk mengubahku menjadi Keong Emas. Syukurlah Kakanda memcariku sehingga aku dapat berubah wujud lagi menjadi manusia.”

“Iya Adinda. Dewi Galuh dan penyihir itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Sekarang kita kembali dulu ke istana ya!” kata Raden Panji. “Mbok Randa, aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas jasamu merawat Dewi Candrakirana. Oleh karena itu jika engkau berkenan, marilah ikut ke istana bersama kami.”

“Raden, terimakasih atas ajakan Raden. Namun saya harap Raden tak keberatan jika saya tetap tinggal di sini. Saya hendak menghabiskan masa tua saya di gubug ini saja Raden.” jawab Mbok Randa.

“Baiklah Mbok Randa, kalau itu yang engkau kehendaki. Kami mohon pamit Mbok.”

“Ya Raden. Semoga Raden dan Dewi senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa.”

Mereka pun akhirnya kembali ke istana dan selanjutnya melangsungkan pernikahan secara meriah dan besar-besaran. Adapun Dewi Galuh dan penyihir diberi hukuman yang setimpal dengan dilarang tinggal di wilayah Kerajaan Jenggala.

Putri akhirnya pulang ke kerajaan bersama tunangannya (http://images2.fanpop.com)

 

Share

About roni