Legenda Gunung Kelud

Penulis: Mimin Mumet | Editor: Afandi, Edi Kusumawati

Gunung (http://i-am-oksancia.livejournal.com)

 

“Emban, bagaimana mungkin aku menerima lamaran mereka. Mahesa Sura manusia yang berkepala kerbau dan Raja Lembu Sora manusia berkepala lembu.  Apa yang harus aku lakukan, Emban?”

Dewi cantik yang memiliki paras elok bernama Dewi Kilisuci itu duduk termenung di taman kaputren di temani oleh embannya.  Seorang gadis yang bertugas sebagai emban sang putri Dewi Kilisuci, membisikkan sesuatu ke telinga sang dewi.

Suara gamelan mengiringi kepergian Dewi Kilisuci dan sang emban menuju balairung istana. Disampaikanya sebuah sayembara kepada ke dua raja yang meminang sang Dewi Kilisuci, putri Tumenggung Jenggala Manik.

“Barang siapa di antara kalian yang sanggup membuat sebuah sumur di atas puncak Gunung Kelud sebelum matahari muncul esok pagi, dialah pemenangnya, yang berhak menikah denganku.  Satu sumur berbau amis dan satu sumur lagi berbau wangi. “Kedua raja yang tengah kasmaran dengan kecantikan Dewi Kilisuci menyanggupi sayembara yang diberikan sang Dewi.  Berangkatlah keduanya menuju puncak Gunung Kelud.  Raja Mahesa dan Raja Lembu Sora berlomba menyelesaikan pekerjaannya tepat sebelum mentari muncul di ufuk timur. Berkat kesaktian keduanya yang mampu mendatangkan bala tentara dari segala jin, akhirnya pekerjaan membuat sumur di atas puncak Gunung Kelud pun selesai sebelum waktunya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang emban? Aku tidak mau menikah dengan mereka.”  Dewi Kilisuci menjadi gusar setelah mendengar kabar dari pengawalnya, bahwa ke dua raja tersebut sudah selesai melaksanakan permintaan Dewi Kilisuci. Dewi memandang ke arah timur.  Matanya menerawang, menembus guratan yang mulai nampak di kaki langit.  Dan…

”Satu permintaan terakhirku. Sebelum lamaran kalian aku terima, sekarang buktikanlah padaku!  Benarkah sumur yang kalian buat itu sesuai permintaanku atau tidak.  Masuklah kalian ke dalam sumur masing masing dan ciumlah baunya!” Cinta memang buta ternyata sudah ada sejak zaman dahulu. Begitu mendengar perintah sang Dewi. Tanpa berpikir lagi, keduanya langsung menceburkan diri ke dalam sumur masing-masing. Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Dewi Kilisuci kemudian memerintahkan ke beberapa pengawal yang mengiringinya menutup sumur dengan batu-batu yang sudah dipersiapkan sebelumnya.  Kesaktian ke dua raja tersebut ternyata justru lenyap ketika masuk ke dalam sumur masing-masing.  Tak ayal keduanya mati dalam sumur yang dibuatnya sendiri.

“Suatu hari nanti balasanku akan datang lebih besar dari apa yang telah kalian lakukan padaku.  Blitar dadi latar (pelataran). Kediri dadi kali (sungai). Tulungagung dadi kedung (danau).”  Sumpah Raja Lembu Sora yang berkepala lembu, menggema memecah kesunyian pagi.  Sumpahnya menetes titik demi titik bersama embun yang mulai mencair.

***

Kututup kembali album foto diriku. Diriku yang pernah berperan sebagai Dewi Kilisuci saat kelas 6 SD dulu. Ingatanku melayang, membayangkan wajah Idris yang kini telah menjadi suamiku. Idris yang berperan sebagai Lembu Sora.  Saat ini tengah mempersiapkan selamatan untuk kampung kami.  Salah satu desa di kota Blitar. Hari ini bulan Suro. Waktunya kami, sebagai warga desa untuk mengadakan selamatan larung sesaji. Demi menghindari kutukan sang Raja Lembu Sora.

***

Nenek Mimin Mumet mengenang masa lalunya (http://www.vectorimages.org)

 

Share

About roni