Legenda Kota Surabaya

Penulis: David Solafide | Editor: Edi Kusumawati

Buaya yang sangat ganas (http://fr.toonpool.com/)

Telah lama Buaya menjadi penguasa tunggal Sungai Kalimas. Semua makhluk air takut dan tunduk kepadanya. Beberapa makhluk darat juga takut kepada Buaya. Karena mempunyai kekuasaan, Buaya menjadi penguasa yang kejam dan bengis. Dia memerintahkan agar setiap makhluk penghuni Sungai Kalimas memberi persembahan kepadanya. Setiap hari dia minta disediakan makanan berupa ikan-ikan segar. Hal ini membuat semua makhluk air menjadi gelisah, tetapi mereka tidak berani melawan. Mereka tidak berdaya. Mereka hanya bisa pasrah.

Suatu hari, datanglah seekor ikan hiu ke Sungai Kalimas. Hiu bernama Sura itu memasuki wilayah kekuasaan Buaya. Sura menyatakan diri sebagai raja di Sungai Kalimas. Sura tidak lebih baik dari Buaya. Sura juga meminta agar semua makhluk air di Sungai Kalimas memberi persembahan kepadanya.

Hiu yang sama ganasnya dengan Buaya (http://www.arthursclipart)

Merasa ada penyusup yang menduduki wilayahnya, Buaya menjadi marah. Buaya menjadi murka. Dia mendatangi Sura. Dia mengusir Sura. Dia menyuruh Sura untuk meninggalkan Sungai Kalimas. Sura tidak memperdulikan Buaya. Dia ingin menjadi penguasa Sungai Kalimas. Dia menantang Buaya untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Buaya menanggapi tantangan Sura. Mulailah mereka terlibat dalam suatu perkelahian.

Sura dan Buaya berkelahi dengan sangat seru. Air Sungai Kalimas bergolak hebat. Sura dan Buaya saling menyerang, saling menggigit. Darah mereka membuat warna air sungai menjadi merah. Jembatan di atas sungai itu juga menjadi merah terkena darah mereka. Perkelahian itu berlangsung berhari-hari.

Banyak orang menyaksikan perkelahian itu. Mereka bukan hanya penduduk di sekitar Sungai Kalimas, mereka juga datang dari beberapa daerah yang cukup jauh.

“Mau ke mana kamu?” tanya seorang petani kepada serombongan orang yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa.

“Kami mau melihat Sura dan Buaya berkelahi.” jawab mereka.

“Apa? Sura dan Buaya berkelahi? Di mana?”

“Di Sungai Kalimas.” jawab mereka

“Aku ikut.” kata petani itu.

Tetapi orang-orang itu sudah berada jauh darinya.

Petani itu pulang dan berkata kepada isterinya, “Aku mau melihat Sura dan Buaya berkelahi.”

“Aku ikut.” kata isterinya.

Ketika para tetangga melihat kepergian suami-isteri ini, mereka juga tertarik untuk pergi menyaksikan perkelahian Sura dan Buaya. Seisi kampung pun pergi bersama menuju tempat perkelahian antara Sura dan Buaya.

Ketika mereka melewati sebuah kampung, penduduk kampung itu ingin tahu kemana mereka pergi.

“Suro Boyo,” jawab mereka sambil berjalan tergesa-gesa.

Penduduk kampung itupun pergi ke ‘suro boyo’ yaitu tempat Sura dan Buaya berkelahi, di Sungai Kalimas. Di sana orang-orang saling berdesakan menyaksikan perkelahian itu.

Sementara itu, perkelahian telah berlangsung selama satu minggu. Perkelahian itu membuat Buaya kehabisan tenaga. Sura juga sangat kelelahan. Mereka menderita luka-luka. Akan tetapi tak ada yang mau mengalah. Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali saling menyerang. Mereka mengerahkan sisa-sisa tenaga, melancarkan serangan yang mematikan. Sura terkapar, tak bergerak. Buaya tergeletak, tak bergerak. Sura dan Buaya sama-sama mati.Sampyuh*)

Tempat di mana Sura dan Buaya berkelahi itu kemudian diberi nama Suroboyo (Surabaya). Jembatan di atas Sungai Kalimas yang menjadi merah karena darah Sura dan Buaya itu disebut Jembatan Merah. Di Kemudian hari, Suroboyo (Surabaya) menjadi sebuah kota dagang dengan daerah sekitar Jembatan Merah sebagai pusat kota. Seiring berjalannya waktu, Suroboyo berkembang ke arah selatan.

Pesan moral:

Perkelahian dan perselisihan hanya akan merugikan kedua belah pihak.

*) sampyuh = sama-sama mati dalam perkelahian.

Meskipun telah mengalami beberapa kali perbaikan, Jembatan Merah tetap dicat dengan warna merah. Di daerah inilah Jendral Mallaby, Panglima Tentara Sekutu, tewas di tangan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 Nopember 1945.

 

Share

About roni