Legenda Orang Utan

Penulis: Langit & Dyah Restyani | Editor: Afandi, Edi Kusumawati

Orang Utan sedang makan pisang (http://1.bp.blogspot.com)

 

Rina dan Roni adalah kakak beradik, mereka tinggal di sebuah desa terpencil bersama ayah dan ibunya.

Meski hidup sederhana, namun keluarga kecil itu sangat bahagia. Rina berumur 9 tahun, dan Roni 6 tahun. Pagi itu fajar baru saja menampakan semburat sinarnya malu-malu di antara pepohonan rindang, sang ayah baru saja akan berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sedangkan sang ibu yang sedang sakit, berada di rumah bersama Rina dan Roni.

Sang ayah berpesan pada Rina dan Roni untuk menjaga ibu mereka. Tapi Rina dan Roni keasikan bermain di luar rumah. Mereka tidak mau datang ketika sang ibu memangggil merintih-rintih kesakitan. Mereka hanya terus bermain dan bermain.

Malang tak dapat di rengkuh, untuk tak dapat diraih, sepulangnya sang ayah dari hutan, ia mendapati kedua anaknya asik bermain sedangkan istrinya sakit bertambah parah, badannya panas dan menggigil. Berbagai macam ramuah sudah dibuatnya, namun hari demi hari sakit sang ibu bukan semakin sembuh melainkan semakin parah, hingga ia meninggal. Sang ayah merasa sangat sedih, dan berulang kali menasihati anaknya, tapi tetap saja anak-anaknya seperti tidak peduli. Hingga suatu hari, sang ayah menikah lagi dengan seorang janda muda yang belum memiliki anak. Rina dan Roni kini memiliki ibu baru. Seorang ibu tiri yang sangat baik dan sayang kepada keduanya.

Akan tetapi di mata Rina dan Roni, ibu tiri adalah sosok yang kejam dan jahat. Itu cerita yang sering mereka dengarkan dari orang-orang.

Suatu hari sang ayah sakit sehingga sang ibu tiri yang harus mencari kayu bakar di hutan. Sang ayah menyuruh Rina dan Roni untuk menemani sang ibu. Mereka awalnya enggan, ogah-ogahan, tetapi akhirnya mengiyakan dengan terpaksa.

Ketika di hutan, sang ibu tiri meminta tolong kepada Rina dan Roni untuk membantunya membawa kayu bakar yang mulai kelelahan dipanggulnya. Namun kedua anak tersebut tidak mau. Mereka menyuruh sang ibu tiri untuk membawa saja kayu-kayu itu sendirian. Mereka bahkan mengolok-olok ibu tirinya, lalu pergi begitu saja meninggalkan sang ibu tiri yang duduk kelelahan memanggul kayu bakar yang banyak itu.

Lama sang ibu beristirahat, lalu hendak melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, tetapi Rina dan Roni belum kunjung muncul. Sang ibu khawatir terhadap kedua anaknya itu. Sebab mereka berdua baru kali itu masuk hutan. Menurut cerita dari suaminya, Rina dan Roni itu tidak pernah mau membantunya mencari kayu bakar ke hutan, makanya mereka berdua tidak tahu jalan-jalan yang ada di hutan.

Mengingat hal itu, sang ibu tiri menjadi cemas. Bagaimana jika anak-anaknya tersesat lalu dimangsa harimau lapar?
Ah, ia berusaha menangkis pikiran buruk itu. Sang ibu tiri akhirnya segera pulang ke rumah untuk membawa kayu bakar, sekalian mau meminta tolong kepada para tetangga untuk membantu mencari Rina dan Roni di hutan.

Berhari-hari Rina dan Roni tersesat di hutan. Mereka kelaparan, meskipun perutnya sudah diganjal dengan buah-buahan yang mereka temukan di hutan. Mereka tinggal di sebuah gua yang mereka anggap nyaman. Untuk melindungi diri dari hujan dan panas. Selama itu berhari-hari pula orang-orang kampung berusaha mencari keduanya namun tidak kunjung ditemukan.
Hingga suatu hari, Rina dan Roni berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Mereka tak bisa kembali ke gua nyaman tempatnya bermain. Rasa lapar menyerang, di sekitar mereka hanya ada buah  larangan yang rupanya sangat cantik dan menggirkan , buah yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Mereka pun memakannya dengan lahap.

Mereka rakus sekali memakan buah-buahan itu. Akibatnya, tanpa mereka sadari, perlahan di sekujur kulit tubuh mereka ditumbuhi rambut-rambut panjang berwarna coklat. Tubuh mereka akhirnya penuh bulu. Mereka menangis sejadi-jadinya.
Berusaha mencari jalan pulang ke kampung, hendak meminta maaf pada kedua orangtua mereka, namun jalan pulang tak kunjung ditemukan. Akhirnya mereka menemukan jalan ke kampung, tapi bukan ke kampung mereka. Banyak pemburu yang melihat mereka sebagai buruan empuk. Mereka lari dan kembali ke dalam hutan. Hidup selamanya di dalam hutan, dan sampai hari ini disebut orang utan.

Mereka menjadi orang utan akibat perbuatan-perbuatan buruk mereka terhadap kedua orangtuanya.

http://1.bp.blogspot.com

 

***

 

Share

About roni