Pertengkaran Raja Ufuk Timur dan Ufuk Barat

Penulis: Ethniz dan Hayuningtyas Pramesti | Editor: Afandi

Raja Ufuk Timur di Merauke memiliki kebanggaan tak terhingga. Masyarakat yang sangat Bhinneka dengan suku-suku yang terbagi menjadi lebih dari dua ratus lima puluh jumlahnya dan juga keaneka ragaman bahasanya yang menakjubkan. Setiap hari Mahkota Zabua, Sang Raja Ufuk Timur menyempatkan diri menemui rakyatnya yang dinamis. Raja Mahkota Zabua sangat hebat, tak ada satu daerah pun yang tak dapat ditaklukannya. Terutama daerah tertimur dari Negara Swarna Dwipa ini. Meski demikian Raja Mahkota Zabua sangat menyayangi putrinya semata wayang, Putri Sekar Malika.

Raja Ufuk Barat di Pulau Weh tak kalah hebatnya. Sultan Teuku Alam Salman namanya. Sultan Alam selalu bahagia dengan kerajaannya yang berlimpah ruah keindahan dan budaya. Segala tari-tarian dan musik yang rumit nan apik ada disana. Kerajaan Sultan Alam di Barat Nusantara begitu indahnya. Itu karena kehebatan Sultan Alam yang dapat memimpin kerajaannya. Namun apapun yang dilakukan oleh Sultan Alam adalah untuk membuat senang hati putri kesayangan satu-satunya. Putri Mayang Sedati.

Kedua raja yang hebat dan berkuasa itu telah lama saling mengenal, namun juga saling bermusuhan. Ada-ada saja obyek yang menjadi perebutan keduanya. Dahulu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia diperebutkan sampai membuat perang yang tidak ada gunanya. Rakyat-rakyat dari kedua kedua kerajaan telah lama lelah dan bosan dengan pertengkaran raja-rajanya itu. Apa saja yang sedang dilakukan oleh Sultan Alam, maka Raja Mahkota Zabua akan tahu dan berusaha merebutnya, begitu juga sebaliknya. Namun dibalik permusuhan itu ternyata ada juga persahabatan yang manis antara Putri Mayang Sedati dan Putri Sekar Malika. Kedua putri itu bersahabat dan saling menyayangi. Mereka selalu bermain bersama di Taman Putra-Putri, sekolah khusus untuk putra dan putri raja dari seluruh pelosok negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Putri Mayang Sedati dan Putri Sekar Malika bukannya tidak tahu permusuhan kedua Ayahanda mereka masing-masing. Namun mereka tetap menjalin persaudaraan dan saling membantu. Putri Mayang Sedati yang lembut dan cerdas, serta Putri Sekar Malika yang lincah dan pintar. Keduanya sama-sama memiliki bakat dalam hal yang berbeda-beda. Putri Mayang Sedati sangat senang bertandang ke kerajaan Putri Sekar Malika dan bermain dengan Burung-burung Cendrawasih liar yang cantik, atau bermain diantara Mosamos (rumah semut) yang penuh misteri. Sebaliknya Putri Sekar Malika tak pernah bosan bermain di kerajaan Putri Mayang Sedati, membuat benteng pasir dan bermain air bersama ikan-ikan cantik di pesisir pantainya yang bersih.

Kali ini ada sebuah benda langit menakjubkan yang diperebutkan oleh kedua Raja hebat itu. Benda langit itu adalah Sang Matahari. Telah banyak berita beredar bahwa Sang Matahari adalah sumber kehidupan. Cahayanya yang hangat dapat menyembuhkan penyakit dan menumbuhkan pepohonan. Belum lagi spectrum warna sinarnya yang berjumlah ribuan. Jikalau di sore hari yang sejuk setelah turun hujan, maka kita dapat melihat Pelangi yang indah membelah langit. Orang-orang percaya para peri bermain musik dan mendendangkan sonata disana. Tentu saja Raja Ufuk Timur maupun Raja Ufuk Barat sangat menginginkan benda langit itu. Raja Mahkota Zabua geram mengetahui bahwa Sultan Alam mengincar Sang Matahari, begitu pula Sultan Alam marah mengetahui Raja Mahkota Zabua merencanakan akan memancing Sang Matahari turun dari langit. Kedua Raja langsung mempersiapkan bala tentaranya masing-masing untuk menyerang. Kali ini kemungkinan perang besar akan berlangsung. Karena kedua raja sangat menginginkan Sang Matahari menjadi milik mereka.

Putri Sekar Malika tergopoh-gopoh menemui Putri Mayang Sedati di Taman Putra Putri. Putri Mayang Sedati pun terlihat cemas.

“Apa yang harus kita lakukan Lika, ayahanda kita akan berperang. Akan banyak lagi korban berjatuhan.” Putri Mayang Sedati berkata sedih seraya menggenggam tangan Putri Sekar Malika. Kedua Putri merasa bimbang dan takut.

“Bagaimana jika kita berdoa, minta kepada Dewata agar perang tidak pecah. Aku tahu tempat Dewata bersemayam,” ujar Putri Sekar Malika.

“Ooh Lika, di manakah para Dewata berada? Cepat beri tahu aku!”

“Jangan kuatir Dati, para Dewata selalu berada di tempat-tempat tinggi. Kau tahu di kerajaanku ada Puncak Tertinggi di seluruh belantara negeri ini! Ayo kita mendaki kesana dan berdoa pada Dewata. Pasti Dewata akan mendengarnya,” jawab Putri Sekar Malika.

Kedua Putri meninggalkan kerajaan tanpa ada yang mengetahui. Diam-diam mendaki puncak Jaya Wijaya, mengharapkan bahwa Dewata akan mendengar doa mereka disana. Tanpa mereka tahu bahwa kedua Ayahanda mereka panik mencari-cari putri kesayangannya.

“Pasti kau yang menyandera putriku Mayang Sedati!” Sultan Alam menemui Raja Mahkota Zabua, menuding Raja Ufuk Timur itu dengan geram.

“Bukankah kau yang menculik Sekar Malika!, kembalikan putriku, kalau tidak ku bumi hanguskan kerajaanmu!” ancam Raja Mahkota Zabua. Tiba-tiba datanglah seorang tua, kakek berusia lanjut dengan pakaian sederhana dan janggut yang memutih.

“Kalian berdua seharusnya malu. Kedua putri kini berada di puncak tertinggi nan bersalju untuk mendoakan kerajaan mereka agar tidak terjadi perang. Tak perlu kalian memperebutkan Sang Matahari, karena Sang Matahari merupakan milik seluruh mahluk hidup di bumi. Dengan demikian Sang Matahari pun menjadi milik kalian juga. Di pagi hari Sang Matahari akan berada di Ufuk Timur, dan di sore hari Sang Matahari akan berada di Ufuk Barat. Itulah sifat alamiah dari Sang Matahari!” orang tua itu memarahi kedua raja. Raja Ufuk Timur dan Raja Ufuk Barat merasa malu hati. Mereka berdua langsung berangkat mencari putri-putrinya.

Putri Mayang Sedati dan Putri Sekar Malika ditemukan jatuh pingsan di puncak gunung. Kedua putri mendapatkan perawatan agar sehat kembali.

“Ayahanda, berdamailah dengan Raja Mahkota Zabua, jangan perang lagi ya!” Putri Mayang Sedati meminta kepada Ayahandanya, Sultan Alam. Sultan Alam menjabat tangan Raja Mahkota Zabua seraya tersenyum. Putri Mayang Sedati dan Putri Sekar Malika saling melirik dan tertawa senang. Kedua kerajaan kini berdamai, rakyatnya pun hidup dengan penuh ketenangan. Sementara Sang Matahari tetap melakukan tugasnya seperti biasa, terbit di ufuk Timur dan tenggelam di Ufuk Barat.

Kerajaan di Ufuk barat (Istimewa)

 

Share

About roni