Putri si Buruk Rupa

Penulis: Triana Septiarini | Editor: Afandi

Ilustrasi Putri si buruk rupa (http://wong168.wordpress.com)

Anak-anakku yang manis, ayo cepat berkumpul disini, semua tenang, duduk yang rapi karena bunda Ana akan mulai bercerita, cerita tentang seorang putri penjelmaan dari Dewi Sri atau dewi padi dengan judul “Putri si buruk Rupa”, legenda cerita dari Pulau Jawa.

____

Alkisah diceritakan pada jaman dahulu kala, disebuah dusun tepatnya dilereng gunung Kencana, Hiduplah seorang janda tua bersama anak semata wayangnya yang diberi nama “Putri Olo”, di sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang sangat lusuh dan kusam terlihat begitu reot, sehingga tidak layak disebut rumah tinggal melainkan lebih pantas disebut gubuk. Gubuk tersebut berdiri dipinggiran hutan, di antara pesawahan membentang, yang biasa digunakan masyarakat sekitar sebagai jalan untuk masuk kehutan mencari kayu bakar atau mencari buah-buahan dan memburu binatang.

Mbok Rondo, begitulah orang-orang memanggil janda tua yang dikenal sangat sayang terhadap anaknya, anak yang tidak pernah melihat ayahnya, karena semasa di kandungan, ayahnya menghilang entah kemana, saat berada di dalam hutan belantara. Mungkin saja meninggal diterkam binatang buas, namun sampai Putri Olo beranjak remaja jazad ayahnya tidak pernah ditemukan.

Mbok Rondo tidak pernah mengijinkan Putri Olo keluar rumah, sehingga masyarakat sekitarpun sering bertanya tanya benarkah ada seorang anak berada di dalam gubuk milik mbok rondo?? Rasa sayang yang begitu besar dari seorang ibu terhadap anaknya membuat Mbok Rondo tidak mau jika Putri Olo keluar rumah, hanya akan menjadi bahan ejekan teman-temannya, karena Mbok Rondo menyadari betul, banyak sekali kekurangan yang ada di diri anak semata wayangnya yang sudah dikurung di dalam rumah sejak usia 5 tahun.

Putri Olo, nama pemberian Mbok Rondo untuk anaknya yang hanya memiliki rambut 21 helai, mata Belo mirip mata ikan mas koki, hidung pesek, bibir dower, giginya pun ompong hingga usianya menginjak 17 tahun dan berbadan gemuk pendek. Namun demikian Mbok Rondo selalu memanggil anaknya dengan panggilan, “Duh… Anakku sing ayu dewe, putri cantik jelita calon istri raja.”

Ya, tidak sedikitpun kata yang jelek keluar dari mulut Mbok Rondo untuk Putri Olo, pagi siang sore malam, dengan penuh kasih sayang Mbok Rondo selalu mendendangkan puji pujian untuk anaknya, seperti putriku sing ayu rupane, rambut mayang terurai, mripate damar kanginan,alise nanggal sepisan,leher jenjang,bangkekane nawon kemit, tinggi semampai, apabila berjalan mblarak sempal dan masih banyak lagi istilah-istilah yang menggambarkan kecantikan putri keraton untuk Putri Olo tercinta.

Alhasil, puji pujian yang setiap hari dilontarkan Mbok Rondo, membuat setiap orang yang mendengarnya merasa penasaran akan kecantikan Putri Olo, banyak tanda tanya apakah benar Mbok rondo memiliki anak secantik yang digambarkan lewat pujian Mbok Rondo? Atau jangan-jangan Mbok Rondo sudah mulai pikun atau bahkan bisa jadi Mbok Rondo sudah tidak waras? Begitu pikiran yang berkembang di masyarakat.

Tiap kali ditanyakan keberadaan sang anak, Mbok Rondo selalu mengatakan ada di dalam rumah sedang menanak nasi dan memasak atau sedang membantu merapikan perabot rumah tangga, Putri Olo selain anak yang sangat rajin membantu pekerjaan rumah, ia pun rajin beribadah sesuai ajaran yang dibawa oleh para wali di Pulau Jawa. Dan setiap kali ada orang yang memaksa ingin melihat atau sekedar mengintip melalui celah-celah dinding bambu Mbok Rondo selalu melarang dengan alasan, “Kecantikan anakku hanya boleh dilihat oleh Raja karena akan dinikahkan oleh Pangerannya.”

Kesenangan Putri Olo adalah menanak nasi karena kerak nasi yang dihasilkan dari menanak nasi tersebut, yang menempel di panci adalah makanan kesukaan Putri Olo, sehingga tidak ada yang terbuang sebutirpun, hanya dengan ditaburi garam atau parutan kelapa muda maka kerak nasi akan terasa nikmat disantap saat masih mengepul, atau tidak jarang pula, Mbok Rondo menjemur kerak kerak nasi tersebut hingga kering lalu digoreng, kerak nasi gorengpun menjadi favorit Putri Olo.

Kehidupan ibu dan anak yang sangat bersahaja itu, dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga tahun ketahun selalu saja dilewati dengan rutinitas yang sama, Mbok Rondo pun tidak pernah berubah sedikit pun dalam urusan memuji Putri Olo hingga suatu hari kabar kecantikan Putri Olo pun sampai ketelinga Raja, yang kemudian memerintahkan hulubalang kerajaan menjemput Putri Olo untuk dibawa ke Istana dan akan dinikahkan dengan Pangeran dengan satu syarat apabila ternyata kecantikan Putri Olo hanya suatu kebohongan belaka maka keduanya (Mbok Rondo dan Putri Olo) akan dipenggal lehernya sebagai hukuman.

Maka, rombongan hulubalang dan para prajurit kerajaan pun segera menuju ke lereng gunung Kencana, menyampaikan amanat Raja kepada Mbok Rondo. Bisa dibayangkan betapa takutnya hati Mbok Rondo, Ia sama sekali tidak menduga jikalau akibat dari memuji anaknya akan sampai ke telinga Raja di Kotaraja nan jauh disana, apalagi mengetahui hukuman yang akan diterimanya, namun dalam rasa takut bercampur gundah dan gelisah Mbok Rondo pasrah, menyerahkan diri pada Gusti Allah dan mengajukan satu syarat pula kepada hulubalang Raja, “Saya mengijinkan anak saya dibawa ke Istana dengan syarat, tidak satu orang pun yang diperbolehkan melihat kecantikan wajah anakku sebelum tiba di Istana Raja. Maka dari itu siapkan tandu tertutup untuk memboyong Putri ayuku bersamaku.”

Hulubalang pun segera menyanggupi syarat yang menurutnya sangat mudah itu, lalu setelah tandu tertutup tersebut sudah siap maka Putri Olo dengan cadar dan kain yang menutupi tubuhnya dibimbing oleh Mbok Rondo memasuki tandu yang hanya muat diduduki oleh dua orang, tidak ketinggalan Putri Olo membawa bekal kerak nasi, parutan kelapa muda dan garam.

Sepanjang jalan menuju Istana di Kotaraja yang jarak tempuhnya memakan waktu dua hari dua malam, di dalam tandu Mbok Rondo tidak pernah berhenti berdoa memohon ampunan dan pertolongan pada Gusti Allah, dan selalu menguatkan hati Putri Olo agar terus tersenyum karena akan dinikahkan dengan Pangeran yang tampan rupawan. Sementara di dalam hati Mbok Rondo, ia menangis bingung dan cemas membayangkan hukuman dari sang Raja jika mengetahui betapa Putrinya adalah Putri siburuk rupa sesuai nama pemberiannya Putri Olo.

Hingga saatnya para prajurit merasa kelelehan memanggul tandu dan berjalan seharian, maka tibalah saatnya beristirahat. Diantara hamparan sawah yang tengah menguning siap untuk dipanen, rombongan pun berhenti dan beristirahat disana. Hati Mbok Rondo makin gelisah sementara Putri Olo tengah asik memakan bekalnya, tanpa terasa Mbok Rondo pun terisak menangisi nasibnya yang sebentar lagi akan dipenggal lehernya.

Tiba-tiba ada seorang wanita cantik jelita menyerupai bidadari yang entah muncul dari mana, berada didalam tandu dan menanyakan, “Kenapa si mbok menangis begitu pilu? hingga membuatku sedih mendengarnya?”

“Tidak mengapa kisanak? Kisanak ini siapa?” tanya Mbok Rondo terbata-bata.

“Aku Dewi Sri, Dewi Padi yang tengah mengawasi sawah ini karena sebentar lagi akan dipanen”.

“Siapa yang ada disebelahmu dan ditutupi kain itu Mbok?” tanya Dewi Sri kemudian.

“Itu anakku, sama cantiknya denganmu Dewi.” Jawan Mbok Rondo sembari mengelap air matanya.

“Mbok, sepertinya anakmu tengah makan sesuatu bolehkah aku memintanya karena baunya mengundang selera makanku, hingga aku merasa lapar sekali.” pinta Dewi Sri pada Mbok Rondo yang masih tersengal sengal mencoba menghentikan isaknya.

“Dewi Sri, perjalanan kami masih satu hari lagi, kami hanya membawa bekal kerak nasi kesukaan anakku, namun jikalau Dewi memintanya, boleh saja akan tetapi ada syarat yang harus kau penuhi. Bagaimana?” rajuk Mbok Rondo.

“Apakah gerangan syaratnya Mbok Rondo yang baik hati? aku pasti akan mengabulkan asalkan aku mendapatkan semua kerak nasi kesukaan anakmu itu.” , jawaban Dewi Sri membuat hati Mbok Rondo berseri-seri.

“Kami akan memberikan kerak nasi ini, dengan syarat tukarkan wajah, badan serta pakaian yang kau kenakan untuk anakku.”, suara Mbok Rondo parau dan bergetar.

Dewi Sri hanya tersenyum dan mengangguk anggukan kepalanya, namun tiba-tiba petir bergelar sangat kencang dan seberkas sinar berputar putar ditubuh Putri Olo, lalu dalam sekecap mata Dewi Sri dan semua kerak nasi beserta parutan kelapa muda dan garamnya menghilang dan Putri Olo pun menjelma menjadi Putri yang cantik jelita. Mbok Rondo merinding melihatnya, Mbok Rondo menangis sejadi-jadinya dan memeluk erak anaknya.

Lalu, Mbok Rondo keluar dari tenda dan sujud syukur pada Gusti Allah namun hulibalang memerintahkan untuk segera masuk ke tenda karena sepertinya akan turun hujan, maka perjalanan harus segera dilanjutkan.

Setibanya di kerajaan, Mbok Rondo dan Putri Olo mendapat kehormatan dengan penyambutan bak tamu agung dari Raja, Permaisuri dan sang Pangeran. Dalam haru biru yang menyelimuti perasaan Mbok Rondo, ia tiba-tiba cemas saat Raja mulai memerintahkan hulubalang untuk membuka tandu dan mempersilakan Putri Olo untuk keluar. Mbok Rondo ragu, jangan-jangan anaknya telah kembali berubah buruk rupa.

Namun, apa yang terjadi anak-anak….

Bersamaan hulubalang membuka kain penutup tandu, semua mata yang berada dikerajaan terbelalak, kagum dan tagjub melihat kecantikan Putri Olo, jelmaan dari kecantikan Dewi Sri, Dewi Padi. Maka, tidak lama kemudian Rajapun menikahkan Pangeran dengan Putri Olo yang berubah namanya menjadi Putri Ayu, Mbok Rondo dan anaknya hidup bahagia di kerajaan.

—————

 

Anak-anak, intisari dari cerita ini adalah jadilah anak yang soleh, solehah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan jangan pernah menyia-nyiakan makanan, kita harus menghargai makanan yang diberikan orang tua kita, serta rajinlah makan karena makanan akan menyehatkan dan menguatkan badan kalian. Banyak cinta dari Bunda Ana.

 

Share

About roni