Saluang Merdu

Penulis: Green Borne | Editor: Dian

Si Bujang di waktu kecil (http://olieve04.blog.com/)

Seorang anak yang bernama Wawan P, besar di bawah kedisiplinan dan kerja keras di pedesaan. Ia memiliki sifat yang ramah dan memiliki bekal ilmu silat yang mantap. Remaja pada umumya akan melaksanakan perantauan untuk membuktikan dirinya adalah seorang laki-laki yang mandiri. Dan dengan langkah mantap menuju ibunya yang seorang diri sedang beristirahat menuai padi di rumah.

 

Bujang : “Bundo, Bujang ingin mohon ijin untuk pergi merantau dan menjalani perantauan demi mencari jati diri yang lebih baik.”

Bundo : “Oh, Bujang janganlah berkata sekarang. Karena apakah penting bagi mu pergi merantau. Apakah sebuah keharusan engkau pergi. Lihatlah lahan di kampung ini masih banyak yang bisa di olah dan bundo rasa itu cukup.”

Bujang : “Bukan begitu Bundo, Bujang pergi merantau untuk lebih mengenal dunia ini,. Bujang ingin mengetahui hal hal yang baru.”

Bundo : “Baiklah Ananda, besok pagi hari segeralah berkemas dan pergilah restu Bundo selalu untukmu anakku. Bundo akan mempersiapkan bekal untuk perjalanmu” (menahan air mata).

Bujang :” Bundo terima kasih, Bundo” (seraya memeluk, sang ibu)

Keesokan harinya perpisahan yang penuh dengan aroma menahan air mata pun terjadi , sekian lama peluk kesah bujang menangis tertahan dan mulai melangkah menuju bis menuju kota.

_____________________________________________________________________________________

Dalam sebuah perjalanan yang panjang akhirnya si bujang sukses di perantauan, senja di ruangannya ia membuka bungkusan lama yaitu bungkusan bekal yang diberikan ibunya.

Di dalam terlihat sepotong bambu seruling (saluang) yang membuat dirinya terharu, dan kembali mengingat kampung halaman nya.

Dirinya mainkan saluang yang mendayu dengan nada yang penuh dengan kerinduan.

_____________________________________________________________________________________

Oh… saluang merdu, sendu nadamu membatku rindu

Kerinduan yang penuh kepada kampung halaman ku

Jarak jauh yang di tempuh, bagai sembilu di hatiku,

Diriku harus kembali, untuk mengobati rasa rinduku

_____________________________________________________________________________________

Bujang pulang kampung. Namun naas, setiba di kampung, ibunya sudah tiada dan dirinya dalam sebuah ratapan yang sangat luar biasa.

-Tamat-

Maaf dongeng tidaklah mesti happy ending, melainkan yang tersirat di dalamnyalah yang terpenting.

_____________________________________________________________________________________

Pesan Moral :

- Sayangilah ibu dan bapak, karena tiada yang lebih berharga jika penyesalan terjadi.

- Dongeng suara saluang yang memanggil kerinduan. Burung yang terbang tak akan lupa di mana tempatnya dibesarkan dan kupu-kupu pun tak mungkin lupa dengan kepompongnya. Hal ini mengingatkan kemana pun langkah melangkah pastilah kita tak melupakan kerinduan kampung halaman.

Note

Bundo : ibu dalam bahasa Minang (Sumatra Barat)

saluang : Seruling Bambu (Khas Sumatra Barat)

Bujang : Pangilan nama pada anak laki – laki

Gambar dari google

Share

About roni