Semut dan Gajah

Oleh: Alex Enha | Editor: Afandi, Edi Kusumawati

Ilustrasi gajah dan semut (http://extremusmilitis.wordpress.com)

Siang itu di sebuah padang rumput yang hijau, satu koloni semut sedang bekerja dengan sangat giat untuk mengumpulkan makanan. Mereka bekerja tanpa kenal lelah dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Gotong-royong memang ciri khas koloni semut dari jaman dahulu, dan koloni semut di jaman ini pun masih melestarikan tradisi warisan nenek moyang mereka itu. Koloni semut ini hidup di bawah sebuah pohon akasia yang sangat besar, satu diantara banyak pohon akasia yang tumbuh di padang rumput yang hijau itu.

Ranu, seorang jendral semut yang sangat dipercaya oleh ratu semut sedang bertugas mengawasi dan mengatur pekerjaan anak buahnya. Ranu adalah sesosok jendral yang sangat bijaksana dan pandai memimpin pasukan. Ratu semut sangat percaya pada Ranu karena kepintarannya dalam mengatur anak buahnya sehingga koloni semut itu selalu makmur dan sejahtera dengan persediaan makanan yang melimpah.

Walaupun Ranu adalah seorang jendral yang sangat dipercaya oleh ratu, tetapi hatinya tetap baik dan tidak sombong serta jumawa. Dia tetap ramah dan murah senyum terhadap setiap semut yang dijumpainya. Dia berpikir dengan keramahan dan kebaikan, maka koloni semut bisa tetap rukun setiap saat. Disamping ramah dan murah senyum, Ranu tetaplah seorang jendral yang disiplin dan disegani oleh anak buahnya.

Di padang rumput itu selain hidup koloni semut, ada kawanan gajah yang juga menggantungkan hidupnya. Karena di padang rumput itu ada sebuah kubangan air yang cukup luas, tempat kawanan gajah itu biasa berendam dan pepohonan yang daunnya jadi santapan yang lezat. Mego adalah seekor gajah yang beranjak dewasa. Dia seekor gajah yang manja, mudah marah dan sombong.

Siang itu Mego malas berendam di kubangan air padang rumput itu. Dia ingin berteduh sambil makan daun akasia. Ketika akan makan daun akasia, dia mendengar suara yang memanggilnya. Ternyata yang memanggil si Ranu, jendral semut yang baik hati. Si Ranu yang sedang mengamati anak buahnya mengumpulkan makanan dari atas pohon melihat ada gajah yang mau makan daun akasia. Dari berita yang pernah didengar Ranu, sudah banyak pohon yang dimakan dan dirusak oleh kawanan gajah.

”Hey gajah yang baik, jangan kau makan dan kau rusak pohon ini, ini rumah kami!”, teriak Ranu sangat berwibawa. ”Namaku Mego hei semut kecil, suka-suka aku, aku mau merusak, mau makan daun ini, memang kamu mau apa?”, balas Mego dan belalainya mulai meraih daun akasia dan memakannya dengan rakus.

Ranu menggeleng-gelengkan kepalanya, gajah ini masih belum paham, gumamnya dalam hati. ”Mego yang baik, padang rumput ini pepohonannya sudah mau habis karena kawananmu yang suka makan dan merusak pohon di padang rumput ini. Nanti lama-lama padang rumput ini bisa jadi gersang”, Ranu berkata dengan perlahan agar mudah dipahami Mego. Tapi dasar Mego tidak paham, dia menyahut, ”Yang penting aku kenyang, kalau kamu melarang aku makan, aku akan adukan ke kelompokku, biar mereka semua memakan habis daun akasia ini.” Ranu pun membalasnya, ”Mego, jangan begitu, kalau kamu mau makan boleh-boleh saja, tetapi kamu harus ingat, nanti kalau padang rumput ini gersang, kamu tidak bisa makan lagi.” Ranu kemudian melanjutkan setelah mengelus sungutnya, ”Bukan hanya makananmu yang akan habis, tapi kubangan air di padang rumput ini juga akan kering, kamu dan kawananmu juga tidak bisa lagi berendam jika hari terasa panas.” Mendengar ia dilarang seperti itu Mego marah dan mulai mendorong-dorong pohon akasia itu agar roboh. Pohon itu bergetar karena serudukan Mego.

Karena sudah tidak bisa diberitahu lagi, akhirnya Ranu mengumpulkan seluruh anak buahnya untuk menyerang Mego dengan memasuki belalai si Mego. Pesan Ranu kepada anak buahnya, ”Pasukanku semua, Mego gajah tidak mau mendengar perkataanku agar jangan merusak dan memakan daun secara membabi buta.” Ranu menghela nafas panjang kemudian berkata lagi, ”Kita peringati Mego saja, jika sudah tidak mendorong pohon ini, tinggalkan dia!” Kemudian pasukan semut pimpinan Ranu menyerang Mego, belalainya dikerubuti ribuan semut dan akhirnya Mego berhenti. Mego sangat ketakutan dengan serangan semut-semut kecil yang sangat banyak itu.

”Ayo pasukanku kembali ke lubang rumah kita, si Mego sudah ketakutan”, teriak Ranu kepada pasukannya. Kemudian dengan disiplin dan teratur pasukan semut kembali ke lubang rumahnya. Ranu kemudian menenangkan Mego agar tidak ketakutan dan kemudian berkata, ”Nah Mego, kamu jangan menganggap kami yang kecil ini tidak bisa melawanmu. Kami hanya ingin memperingatkan kamu dan kawananmu agar tidak merusak hutan ini.” Ranu melanjutkan lagi, ”Kalau kamu, kawananmu dan semua penghuni padang rumput ini memelihara dan menjaga padang rumput ini dengan baik, kita masih bisa hidup disini seterusnya, karena padang rumput ini tidak akan rusak.”

”Iya, iya aku mengerti sekarang Ranu”, kata Mego agak gugup dan gemetar karena sisa-sisa ketakutan masih ada di dirinya. ”Baiklah kalau begitu, kamu aku beri satu tugas, kamu sanggup melaksanakannya?”, kata Ranu kemudian. ”Kamu beritahu kawananmu untuk memelihara padang rumput ini agar kita bisa tetap hidup tenang dan mencari makan disini, bagaimana kamu bisa?”, tanya Ranu. ”Baiklah Ranu, aku akan menyampaikan hal ini ke kawananku.” Kemudian Mego pergi menuju kawanannya untuk memberitahukan hal ini.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Mego kembali ke pohon akasia tempat Ranu dan koloni semut tinggal. ”Ranu kamu dimana?”, panggil Mego. ”Aku disini, di atas dahan sedang menikmati pemandangan padang rumput yang hijau”, jawab Ranu dari atas pohon. ”Ranu, aku kemari membawa pesan dari pemimpinku, beliau mengucapkan terimakasih atas semua nasehat dan perkataanmu.” Kemudian Mego melanjutkan lagi, ”Pemimpinku menyadari kami sering merusak pohon dan tumbuhan di padang rumput ini, lama kelamaan akan rusak dan kita semua tidak bisa makan disini lagi.” Ranu senang sekali mendengar berita itu. Ranu pun berkata, ”Baiklah Mego, mari kita semua jaga padang rumput ini, agar kita bisa hidup di padang rumput ini dengan damai.”

Sejak saat itu, padang rumput bisa dirawat bersama-sama oleh penghuni padang rumput itu. Ini semua berkat kebijaksanaan dan kesabaran Ranu dalam menyadarkan Mego dan kawanannya. Kawanan gajah pun bisa merawat padang rumput itu dengan memakan dedaunan seperlunya dan tidak merusak pohon untuk meraih daun yang tinggi. Kawanan gajah itu makan tidak rakus lagi, makan cukup sampai kenyang saja.

 

Share

About roni