Si Keling Merah

Penulis: Granito Ibrahim |Editor: Afandi, Edi Kusumawati

anak nusantara

Gambar oleh Granito Ibrahim

 

 

Hujan baru saja reda, setelah beberapa saat membasahi sebuah dusun tua. Air menggenangi beberapa empang, kolam ikan dan menderas aliran sungai-sungai.  Pepohonan segar berseri, daunnya tersenyum menampung tetesan air. Pelangi terbit di ufuk timur, mewarnai barisan bukit, mirip goresan kelir pensil pada langit yang kini membiru setelah ruah hujan meninggalkan bumi.

Di desa itu anak-anak gemar bernyanyi dan bermain di genangan air. Beberapa anak lelaki kecil saling berkecipak hingga lumpur hinggap pada tubuh telanjang dada teman-temannya. Mereka tertawa-tawa, berlompatan riang sambil mendendang lagu tentang pelangi dan berkah hujan. Bagi masyarakat desa itu datangnya air dari langit pertanda padi akan menyubur, kebun buah-buahan mulai meranum, sekelompok burung mulai beterbangan, meramaikan suasana desa.

Selagi mereka bergembira, ada seorang anak bernama Nako yang tidak turut bermain dilapangan bertebar lumpur. Ia menimang-nimang perahu kertas warna merah, buatannya sendiri ketika hujan tadi sedang melebat. Sudah lama bocah laki-laki itu menunggu saaat seperti ini, baginya selipat perahu kertas adalah impiannya, seolah mewakili keinginannya untuk berlayar mengelilingi dunia.

Bergegas ia berjalan menyusuri pematang menuju sebuah sungai, melayarkan lipat perahu buatannya. Keinginan Nako, kini tersampai sudah setelah berbulan hujan tiada turun dan sungai menyurut, hingga bebatuan menggelilingi tepiannya.

Dengan hati-hati ia melangkah pada tanah basah pinggir sungai, sedang hatinya berdebar tak sabar. Kapal kertas itu perlahan diletakkan di pinggir sungai, dan dengan sepenuh hati ia berharap, semoga saja buatannya berlayar hingga ke lautan lepas. Keliling samudra mengitari bumi dan berlayar, terus berlayar.

Saat itu arus sungai begitu bersahabat, riaknya lembut mendorong perahu kertas merah . Angin membantunya berkelok, menghindarkannya dari bebatuan dan ikan-ikan kecil yang mengganggunya dengan cubitan-cubitan kecil. Nako melihat perahunya berlabuh menyusuri sungai, terus berjalan diatas air, hingga hilang dari pandangan.

Sampai di sebuah muara, perahu mungil itu tiada lagi sendiri, ada beberapa kapal kertas lainnya yang turut berlayar bersama.  Ada yang berwarna biru, hijau, kuning dan ungu. Rupanya anak-anak dari desa lain serupa dengan keinginan Nako, menyambut hujan usai dengan melabuhkan perahu lipat buatan mereka masing-masing. Perahu-perahu itu berlayar berkelompok menuju lautan, angin timur membantunya hingga terdorong ke samudra bebas.

Ombak laut tinggi bergelombang, mengguncang barisan kapal kertas warna. Sebagian mulai koyak, tersobek dan lalu tenggelam. Perjalanan tiba di perairan sebuah kepulauan, tinggal perahu merah yang masih melaju. Sekelompok ikan lumba-lumba membantunya menggelilingi bagai pagar, hingga terhindar dari gelombang air  yang memuncak.

Sementara di dalam laut biru itu hiduplah seorang putri, wajahnya cantik berambut panjang kemerahan. Kakinya mirip ikan, bersisik cerah dan mempunyai sirip dayung mengembang. Para penghuni samudra menyebutnya Putri Duyung, sang ratu yang menguasai perairan itu. Konon kabarnya, sang putri adalah jelmaan seorang wanita dari sudut gubuk sebuah desa di seberang benua.

Di dalam lautan : http://www.bunakenchacha.com/

****

Wanita itu dulunya adalah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan putra semata wayangnya. Semasa hidupnya, perempuan desa ini selalu berdoa agar hujan selalu datang. Daerahnya sering terhempas musim kemarau hingga sawah-sawah mengering dan penduduknya terancam kelaparan.  Panjatannya kepada Sang Ilahi terdengar di semesta, menggema dari jagat ke jagat.

Penguasa segala alam mendengarnya lalu memberikan titah kepada malaikat agar mengabulkan permintaan wanita itu. Maka air hujanpun sering berkunjung, menghijaukan desa tersebut. Hingga kuning padi mensejahterakan penduduknya, dari waktu ke setiap masa berganti.

Ketika perempuan tersebut menemui ajalnya, ada malaikat yang memohon kepada Sang Ilahi agar wanita itu dihidupkan kembali menjadi seorang putri. Karena doanya yang ikhlas tulus suci, selalu menyertai subuh hingga seluruh alam bersimpati. Permintaan malaikat ternyata dikabulkan, jadilah nyawa ibu muda itu menitis pada Putri Duyung.

****

Kapal kertas merah masih terombang-ambing digulung ombak, hampir tenggelam. Bayangannya di air terlihat oleh Putri Duyung. Beberapa lumba-lumba mengiringi, menyertakan kabar tentang kapal kertas itu. Tiba-tiba Sang Putri mengenali benda merah tersebut, dan berkatalah ia pada sekelompok ikan. “Kapal kertas itu adalah buatan keturunan anak cucuku, perjalanannya kemari adalah wujud sebuah rindu. Tentang diriku yang diceritakan turun temurun dari sebuah dusun, di mana aku pernah hidup beberapa jaman yang lalu”. Maka si cantik rambut kemerahan itu menembang sebuah panjatan:

“Wahai Sang Maha Penguasa segala semesta, jadikanlah perahu merah itu menjadi seekor ikan yang akan menemaniku di laut ini, hingga ribuan tahun yang akan datang.”

Gelegar menggelegar, bergemuruh suara dari tangga-tangga lapisan langit dan menjelmalah perahu itu menjadi seekor ikan, yang kini disebut ‘Keling Merah’ oleh para nelayan dari segala benua. Mahluk itu lucu dan manis bentuknya.  Tatkala matahari terbenam, ia tidur masuk kedalam pasir dasar laut, menemani Sang Putri Duyung hingga kini hari.

(Ikan keling merah sering bercerita kepada putri, tentang Nako, bocah pembuat perahu kertas. Dan wanita duyung itu selalu menitik air matanya, setiap kali mendengar kisah tersebut….)

***O***

 

 

 

 

Share

About roni