Bencana Ulat Bulu Utusan Sang Dewa

Penulis: Langit | Editor: Hamzet, Edi Kusumawati

 

http://welovebutterflies.com

Siang yang terik, matahari memancarkan cahayanya tepat di atas langit. Ribuan ulat bulu sedang berteduh di rumahnya yang berupa ribuan pohon dengan daun-daunnya yang rimbun sembari makan siang. Inilah salah satu kerajaan ulat bulu terbesar  di antara puluhan kerajaan yang lain yang tersebar di nusantara ini. Kerajaan tersebut di pimpin oleh satu raja bernama Kakab dan permaisurinya bernama Kobil. Sang raja memimpin  kerajaanya dengan aman dan tentram, memerintahkan rakyat untuk selalu hidup rukun, melindungi diri sebisa mungkin dari semut rangrang dan burung pemakan ulat. Tidak lelah ia berseru kepada seluruh rakyat untuk selalu bertahan dan bersabar selama 3 sampai 4 minggu menunggu waktu untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah dan berwarna-warni.

Suatu sore seekor ulat yang bernama Kilon lari luntang-pukang dan berteriak dengan cemas kepada teman-temannya.

“Ada bencana datang teman- teman, harap lindungi diri kalian!”

Serentak  para ulat yang mendengar seruannya memandang ke arahnya dengan perasaan cemas.

“Lihatlah ke arah sana, ada manusia sedang mengergaji beberapa pohon, bagaimana nasib teman-teman kita yang tinggal di pohon tersebut?”

Si ulat yang bernama Kilon tersebut  menunjuk ke suatu arah, dan ratusan ulat serentak menengok ke arah yang ditunjuk si Kilon.

Terlihat dengan jelas di sana, 4 manusia sedang menebang pohon yang digunakan sebagai tempat berlindung dan makan  para ulat. Terdengan riuh rendah  tangisan dari para ulat yang tinggal di sana, beberapa ulat terjatuh dari pohon yang sedang di gergaji, getaran gergaji membuat mereka tak kuasa bertahan. Puluhan lainnya mati seketika saat pohon tersebut tumbang. Mereka mati terbanting dan tertindih oleh cabang-cabang pohon lainnya. Beberapa lainnya mati karena diinjak oleh si penebang yang merasa geli.

Para ulat yang menyaksikan kejadian tersebut tak kuasa melihat teman-temannya diperlakukan sedemikian rupa. Salah satu ulat mengusulkan untuk membalas perbuatan manusia tersebut dengan cara menjatuhkan diri dari atas pohon dan mengigitnya, namun beberapa lainnya menyarankan sebaiknya tidak membalas kejatahan dengan kejahatan. Mereka sepakat untuk tidak membalas dan merelakan puluhan temannya mati mengenaskan sebelum menjadi kupu-kupu.

Kejadian tersebut didengar oleh raja ulat, meski sedih ia tidak berniat membalas dendam kepada manusia yang telah membunuh puluhan rakyatnya. Dengan bijaksana sang raja berkata kepada rakyatnya, sebaiknya mereka pindah ke tempat yang lebih aman dan tak terjangkau oleh manusia. Pada hari yang telah ditentukan, mereka berbondong-bondong memasuki hutan yang lebih dalam. Dengan harapan tidak ada lagi yang menganggu mereka.

“Meski bentuk kami saat ini sangat menakutkan dan membuat manusia jijik, tapi suatu hari kami akan menjadi kupu-kupu yang indah, mereka semua akan terpesona dengan keindahan kami. Rakyatku, bersabarlah hingga hari itu tiba”

Demikian pesan sang raja.

Hari demi hari sembari menunggu dirinya berubah menjadi kupu-kupu, mereka hidup tenang di tengah hutan, tidak ada gangguan dari siapapun. Mereka hidup tentram dan nyaman, makan kenyang dan lahap. Apalagi dedaunan di sana baru saja bersemi. Rasa manis daun muda membuat mereka lahap dan menjadi ulat yang gemuk dan montok.

Hingga bencana itu tiba di kediaman mereka.

Puluhan manusia dengan rakusnya menebangi pohon-pohon di hutan tersebut, nyaris gundul. Para ulat kebingungan di mana mereka harus tinggal dan mencari makan bila semua pohon di hutan ini di  tebang?

Sang raja tak kalah  cemas, hampir setiap hari ia tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertahan hidup selama beberapa hari lagi sebelum ia dan rakyatnya menjadi kupu-kupu.

Suatu hari raja berseru kepada rakyatnya.

“Rakyatku, sebentar lagi kerajaan kita akan musnah, indahnya kupu-kupu mungkin tidak akan bisa dilihat, harapan satu-satunya kita harus berdoa, memohon kepada sang kuasa serahkanlah diri kita seutuhnya kepada sang kuasa, baik ataupun buruk.”

Semua rakyat setuju, mereka melakukan doa bersama, menyerahkan diri kepada sang kuasa.

Tiba-tiba angin kencang datang melanda, sangat kencang sehingga para ulat tidak sanggup untuk berpegangan pada dahan dan dedaunan. Mereka di terbangkan oleh angin, menyebar ke seluruh penjuru, masuk ke kampung – kampung manusia, bergelantungan di pepohonan.

Terdengar satu suara menggelegar.

“Aku  mengutusmu memasuki kampung-kampung manusia wahai para ulat, engkau telah menyerahkan hidup dan matimu di tanganku, sesungguhnya tidak ada rasa kesakitan saat kamu di bakar maupun di bunuh, berikanlah pelajaran kepada umat manusia yang serakah, aku akan melihatnya, akankah mereka bertaubat dan berhenti menebang pepohonan di hutan, ataukah mereka akan terus berperilaku seperti itu? Kelak bencana yang lebih besar  akan datang bila waktunya tiba, bila mereka tidak menghentikan aksinya menebang pepohonan di seluruh hutan jagat raya ini.”

Para ulat tersenyum gembira karena atas ijin sang kuasa mereka memasuki kampung-kampung para manusia yang serakah. Mereka berpasrah diri tidak pernah berharap lagi untuk menjadi kupu-kupu. Kedatang mereka adalah sekadar memberikan sedikit pelajaran bagi umat manusia agar tidak sembarangan menebang pepohonan di hutan – hutan karena akhirnya akan menjadi bencana bagi diri manusia itu sendiri, bagi keturunan – keturunannya kelak. Bila umat manusia tidak sadar, maka bencana yang lebih besar akan datang, tanah longsor, banjir bandang, dan lain sebagainya.

Share

About roni