Penulis: Diah Chamidiyah dan Noorhani Laksmi |Editor: Dian
Bunny adalah seekor anak kelinci yang sangat lucu. Bulunya putih bersih, telinganya panjang, dan ekornya bulat pendek. Bunny anak kelinci yang baik. Tapi sayang, Bunny tidak suka menggosok gigi. Apalagi Bunny suka sekali menikmati makanan yang manis-manis seperti permen dan berbagai macam coklat.
Bunny kelihatan sangat menggemaskan dengan gigi kelincinya yang putih. Akan tetapi bunda Bunny khawatir dengan kesehatan giginya karena hobi Bunny makan manisan sementara Bunny malas menggosok gigi, terutama menjelang tidur.
Semua coklat dan manisan sangat disukai Bunny. Akibat lainnya adalah badan Bunny semakin gemuk. Setiap berangkat sekolah, Bunny membawa bekal susu coklat dan permen coklat. Padahal bunda Bunny sudah menyiapkan bekal air putih dan salad. Namun, bekal ini selalu ditukar kembali oleh Bunny.
Hari ini ayah Bunny datang dari kota. Ayah membawa oleh-oleh lima kotak cokelat. Cokelatnya mungil dan berbentuk lucu-lucu. Ada yang seperti beruang, kapal, mawar, stroberi, dan lain-lain. Warnanya juga sangat menarik. Bunny senang sekali dengan oleh-oleh yang dibawa ayahnya.
“Wah, Ayah lucu sekali coklatnya. Asyik… hari ini aku bisa makan coklat sekenyang-kenyangnya, nih. Terimakasih, Ayah,” kata Bunny.
Bunny sudah tidak sabar segera melepas seragam sekolah. Sambil menikmati coklat kesukaannya Bunny pun duduk bersantai-santai di depan tv.
“Bunny, coklatnya jangan dihabiskan sendiri, bagi juga dengan temanmu Mili, Flo, dan Chiko ya!” kata Bunda.
Bunny hanya bergumam tak jelas.
“O, iya nanti sore nenek dan kakek datang. Ingat, coklatnya jangan kamu habiskan sendiri, ya Nak,” lanjut Bunda.
“Ah,e Bunda, cokelat-cokelat ini enak sekali, Bunny mau menghabiskan sendiri saja,” kata Bunny sambil memasukkan coklat-coklat ke toples hello kitty kesayangannya.
“Itu kan banyak, Nak, bagilah teman-temanmu. Jadilah anak yang pemurah,” nasihat Bunda.
Bunny diam saja dan tetap memeluk toples hello kitty-nya
“Jika terlalu banyak makan coklat dapat membuat sakit gigi, apalagi kamu kadang malas gosok gigi,” kata Bunda lagi.
“Ah Bunda liat, walaupun aku malas gosok gigi, tapi gigiku tetap bagus kok!” sahut Bunny sedikit sombong.
Bunda hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bunny.
Dari pulang sekolah hingga menjelang sore Bunny asyik menikmati coklat-coklat dengan aneka rasa dan bentuk tersebut, tanpa memedulikan nasehat bundanya.
Tiba-tiba .
Tok…tok… tok . Pintu depan diketuk dari luar.
“Pasti nenek dan kakek,” Pikir Bunny, sambil segera melesat ke luar untuk membukakan pintu.
Sudah setahun lebih Bunny tidak bertemu kakek dan nenek. Mereka tinggal di luar kota dan sibuk mengurus kebun buahnya.
Bunny membuka pintu dan berteriak, “Nenek…Kakek…” teriaknya sambil merentangkan tangannya. Tampak kakek dan nenek Bunny berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
Tapi tiba-tiba Bunny terkejut dan berlari menjauh sambil menutup muka dengan ketakutan.
“Haah Kakek dan Nenek kok jadi ompong, kemana gigi–gigi mereka?” kata Bunny dalam hati dan tidak jadi memeluk mereka.
“Kenapa Bunny, kamu takut, ya, sama Nenek dan Kakek?” tanya nenek Bunny sambil berjalan masuk rumah. Di keranjang jinjing nenek tampak buah pisang dan mangga yang telah masak.
“He….he….he…. itu dia salah satu penyebab gigi Nenek dan Kakek habis!” kata Kakek terkekeh geli, sambil menunjuk coklat-coklat yang masih tergeletak di sofa tempat Bunny tiduran.
Malam hari Bunny tidur dengan gelisah.
Tiba-tiba Bunny sudah berada di sekolahan. Dia malu sekali ketika semua teman dan ibu gurunya menertawai dia.
”Ha… ha… ha… liat, Bunny ompong, tidak punya gigi. Giginya habis karena makan coklat,. Makanya, jadi anak jangan serakah, semua cokelat dihabiskan sendiri!” Kata Flo salah satu sahabatnya.
“Tidaak… tidak… tidak…. aku tidak mau ompong!” teriak Bunny ketakutan, teringat sore tadi melihat senyum kakek dan neneknya yang aneh karena gigi-giginya habis.
“Bunny… Bunny… bangun Nak, kamu bermimpi ya….” kata Bunda membangunkan Bunny yang masih tertidur.
Bunny bangun dan langsung berlari ke depan kaca. Bunny pun tersenyum. Olala, gigi kelincinya masih ada.
“Ah, aku bermimpi Bunda,” kata Bunny masih pucat.
“Pasti kamu bermimpi seram ya? Sampai teriak segala…,” kata Bunda.
“Iya Bunda, Bunny bermimpi gigi Bunny habis dan jadi ompong seperti Kakek dan Nenek. Teman-teman semua mentertawakan Bunny,” kata Bunny
“Bunny tadi ketika mau tidur belum gosok gigi ,ya. Seharian ini kan Bunny banyak makan coklat, Nak, bisa-bisa Bunny benar-benar menyusul Nenek dan Kakek jadi ompong lho,” lanjut Bunda sambil membelai Bunny.
“Tidak, Bunda. Aku tidak mau ompong. Aku malu ditertawain teman-teman dan BU Guru. Apalagi semua orang mengagumi gigi kelinciku ini,” kata Bunny ketakutan.
“Kalau kamu tidak ingin gigimu ompong jangan banyak makan cokat atau permen. Bunny juga harus rajin menggosok gigi, minimal 2 kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur,” kata Bunda.
“Baiklah Bunda, Bunny akan menuruti nasehat Bunda.” Kata Bunny memeluk Bundanya.
“Sekarang, Bunny gosok gigi dulu, kemudian membaca doa dan tidur lagi, ya,” kata Bunda lembut. Bunny pun ke kamar mandi untuk menggosok gigi, kemudian berdoa dan kembali tidur.
Bunny bermimpi sangat indah. Dalam tidurnya, dia pun tersenyum manis.










