Cia dan Pengamen

Penulis: Ramdhani Nur dan Herlya Annisa | Editor: Hamzet

 

 

Rumah Cia (http://1.bp.blogspot.com)

“Du bi du bi dam dam du bi du bi dam!”

Mami melongokkan kepalanya ke arah pintu pagar rumah yang terbuka. Dua anak kecil tengah memainkan kecrekan kayu yang dipukul perlahan. Yang paling besar – seorang perempuan seusia Cia – bernyanyi lantang menutupi suara anak lelaki kecil yang kadang lupa mengucapkan liriknya. Mami hendak beranjak menghampiri, tapi tangan Mami masih belepotan dengan piring-piring kotor di dapur.

“Cia…! Ada yang ngamen di luar. Kasih receh gih! Uangnya ada di dekat TV” teriak Mami pada Cia yang tengah menyantap makan siangnya.

“Iya…!” Buru-buru Cia beranjak dari kursi dan menyambar uang recehan yang tergeletak di samping televisi.

“Kamuuu makaaannya apaaa…”

Dari Jendela Dapur Cia melihat pengamen itu (http://3.bp.blogspot.com)

Cia sudah mendekat pada dua pengamen cilik itu. Dari dapur melalui kaca jendela yang menembus sampai pintu pagar Mami melirik tangan Cia yang menyerahkan uang receh itu ke tangan mereka. Nyanyian kemudian berhenti.

“Makasih!” Seru yang paling besar.

Mami kembali melanjutkan mencuci piring. Beberapa piring bekas sarapan, peralatan sisa-sisa memasak menumpuk tinggi di bak cuci. Saat sedang santai, kadang Cia ikut juga membantu juga mencuci gelas dan piring bekas makannya. Mami membiarkan saja meski kadang hasil cuciannya masih tersisa bau sabun. Atau tak memarahi ketika sebuah mangkuk kecil pecah terjatuh karena lepas dari tangannya. Tak ada kesalahan dalam belajar. Karena suatu saat Cia akan menjadi ibu. Cia harus mampu mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Dan hanya dari ibunyalah Cia akan belajar itu semua.

Piring hampir tercuci habis. Tinggal beberapanya saja yang masih dipakai makan siang Cia. Mungkin sekarang sudah selesai.

“Cia…! Sudah makannya, sayang?” Sahut Mami masih dari balik dapur. Tak ada jawaban dari Cia. “Cia…!”

Mami melongok ke ruang makan. Tapi tak terlihat siapun di sana. Di meja makan cuma ada sisa menu makan siang. Kursi yang diduduki Cia tadi kosong. Kemana Cia? Mami segera beranjak ke ruang makan. Tangannya dibiarkan tetap basah.

“Cia..! Kamu dimana sayang?”

Kembali tak terdengar balasan dari Cia. Padahal sebelumnya Cia baru saja memberikan uang receh pada kedua pengamen itu, meski Mami tak melihat Cia kembali duduk ke meja makannya. Atau jangan-jangan? Ah, Mami sudah berpikiran macam-macam. Apalagi jika dia ingat pada berita-berita buruk di televisi tentangan penculikan anak. Makin tak karuan saja perasaan Mami. Bergegas Mami berlari ke pintu depan yang masih terbuka. Masih tak ada siapa-siapa di sana. Begitu juga dengan teras depan, kosong. Kemana Cia, ya?

“Cia…!” Panggil Mami semakin was-was. Mata Mami menoleh pintu pagar yang kini terbuka lebar. Jangan-jangan benar! Cia dibawa pergi oleh pengamen-pengamen tadi. Mami lalu mendekat ke pintu pagar. Belum sampai tangannya meraih pintu, Mami sempat mendengar percakapan kecil dari balik gerbang.

“Ayo, ambil! Kata Mami, makanan itu pemberian Tuhan. Nggak boleh ditolak. Nanti Tuhan akan marah. Dimakan, ya!” Itulah kata-kata yang didengar Mami. Ya, Cia-lah yang berkata itu. Lega sudah perasaan Mami. Syukurlah, begitu Mami berucap dalam hati. Karena dari balik pagar tempatnya berdiri, Mami melihat Cia sedang membagikan ayam goreng pada kedua pengamen cilik itu. Berbeda dengan kakaknya, anak lelaki yang lebih kecil itu tampak tak ragu meraih ayam goreng dan melahapnya dengan semangat. Cia tertawa kecil melihatnya. Sementara Mami tersenyum bangga. Putrinya ternyata jauh lebih mengerti dari sekadar menghargai pemberian Tuhan. Karena Cia juga sudah paham untuk berbagi rejeki Tuhan pada sesama. Ah, Cia memang anak yang baik dan pintar.

Cia anak yang baik (http://amfaj.wordpress.com)

***

 

Share

About roni