Cia Mogok Makan

Penulis: Ramdhani Nur & Herlya Annisa | Editor: Hamzet, Edi Kusumawati

Cia mogok makan (http://fafafakebkeidimsia.blogspot.com)

Cia cemberut di depan meja makan. Di hadapannya tersaji sepiring nasi lengkap dengan sepotong ayam goreng dan dua kerat tempe bacem sebagai lauknya. Di tengah meja sebuah mangkuk besar berisi sayur sop tampak masih mengepulkan asap, menebar aroma wangi yang menggugah selera.

Sambil tetap memasang wajah masam, Cia membolak-balik ayam goreng yang tergolek pasrah di atas piring. Mami yang sedari tadi memperhatikan tingkah putri kesayangannya itu jadi dibuat pusing tujuh keliling karenanya.

“Kok nasinya nggak dimakan, sayang?” tanya Mami. Yang ditanya malah semakin cemberut. Mami semakin bingung dibuatnya.

“Loh! Kok cemberut gitu sih?” Mami menghampiri Cia dan duduk tepat di sebelahnya. “Cia kenapa? Bosan ya sama masakan Mami?”

Cia tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.

”Terus, kenapa Cia gak mau makan?” Mami menatap wajah Cia lekat, berusaha mencari jawaban.

“Cia lagi mogok makan!” jawab Cia sambil tetap cemberut. Pipinya yang merona tomat tampak menggembung.

Mami terkejut mendengar jawaban Cia. Sepertinya Cia sedang marah. Mami sadar, pasti ada hal yang mengganggu pikiran putrinya saat ini. Karena tak biasanya Cia tak bernafsu makan. Apalagi jika lauknya ayam goreng. Cia bisa menghabiskan dua potong ayam goreng sekali makan.

Kini Mami berdiri dan mendekat pada tempat duduk Cia. Diusapnya rambut ikal Cia yang tergerai hingga sebatas bahu. “Kenapa Cia mau mogok makan, Sayang?”

Cia melirik Mami yang tengah berdiri di sampingnya. Matanya berkaca-kaca. “Cia diledekin sama teman-teman di sekolah. Mereka bilang, pantas aja Cia gendut, kerjanya juga makan terus.”

“Hmm, begitu?” Mami menyelidik. “Pasti mereka cuma becanda.”

“Tapi Cia malu, Mam!”

“Terus Cia jadi nggak makan?”

“Iya. Pokoknya Cia mau diet!”

Cia ingin mencoba diet (http://www.dreamstime.com)

Mami tersenyum. Kali ini tangan Mami merengkuh bahu Cia. Mencoba menenangkan perasaan Cia yang mulai tak karuan. “Cia nggak gendut kok! Tuh lihat! Cuma sedikit chubby. Mami malah gemes pengen nyubit pipi Cia.”

“Tuh kan! Mami sama aja kayak temen-temen,” Cia semakin cemberut mendengar ucapan mami. Mami lalu menarik kursi dan mengambil tempat di sebelah Cia.

“Cia, sayang!” lembut Mami berucap. “Cia tahu kan kalau makanan itu pemberian dari Tuhan?”

Cia hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Mami. Wajah Cia masih tetap masam.

“Terus, kenapa Cia gak mau makan?” kembali Mami bertanya.“Cia pengen Tuhan marah, ya?”

“Memang Tuhan bisa marah?” Cia balik bertanya pada Mami.

“Iya! Kalau Cia nggak mau makan, berarti Cia menolak kebaikan Tuhan! Nah, nanti Tuhan bisa marah,” jelas mami.

Cia terdiam. Mulai meresapi kata-kata ibunya. Dalam hatinya Cia tak mau membuat Tuhan marah. Apalagi Tuhan sudah begitu baik memberikan Cia dan keluarganya makanan yang enak dan selalu berkecukupan. Cia mestinya bersyukur atas hal itu. Cuma Cia masih kesal saja dengan ledekan teman-temannya.

“Terus kalau temen-temen ngeledek gimana?”

“Biarin aja! Nggak usah ditanggapi. Buktinya Cia nggak gendut. Dan yang penting Cia tetap sehat.”

Cia menatap Mami. Betul juga, pikirnya. Memang terbukti dibanding teman-temanya, Cia termasuk anak yang jarang sakit dan selalu dapat nilai bagus dalam pelajaran olahraga. “Bagaimana? Cia mau makan, kan?”

Cia mengangguk Perasaannya mulai kembali normal. Pipi Cia yang sempat basah tadi ikut diseka oleh Mami.

“Anak pintar!” puji Mami ketika tangan Cia mulai menyentuh sendok makannya. “Kalau Cia merasa akan kenyang. Ambil nasinya sedikit-sedikit aja, ya!”

Cia mengangguk mengerti. Wajahnya mulai terlihat kembali cerah. Sesendok nasi sudah mulai masuk ke dalam mulutnya. Ibunya menarik napas lega. Bersama waktu, putri kecilnya akan lebih mengerti tentang menghormati dan mensyukuri rejeki dari Tuhan.

Yang penting untuk Cia sekarang adalah sehat (http://justalittlebitskinny.blogspot.com0

***

 

Share

About roni