Desi dan Sendal Ajaib (Bermain Ke Negeri Kura-kura)

http://prek-8.com

Persahabatan Desi dan sendal ajaib, semakin lama semakin mengental.  Mereka bertambah akrab dan saling menyayangi. Sendal ajaib bagaikan kakak bagi Desi, ia selalu mengingatkan Desi akan tugas sekolahnya, ia juga dengan sabar mendengarkan cerita Desi.  Sendal ajaib juga bagaikan buku kamus hidup, ia tahu segala hal. Banyak hal yang diajarkannya pada Desi, sehingga Desi bertambah pandai dan memahami semua hal dengan baik.

Suatu hari ketika mereka sedang bercengkrama di bawah pohon Rambutan, sendal ajaib bercerita tentang Negeri Kura-Kura.

“Desi, Negeri Kura-kura adalah negeri yang penduduknya sangat rajin dan sabar”
Begitukah sendal ajaib?  Dari cerita yang aku dengar, kura-kura adalah binatang yang lamban, pemalas dan pemalu”
“Itu adalah hal yang salah Desi”
“Kalau begitu, aku ingin melihat secara langsung kegiatan penduduk Negeri Kura-kura”

“Ayo kita kesana, pakai cara yang cepat saja ya?”
“Okey……”
“Seperti biasa, tutup matamu dan tunggu perintahku”

Desi menutup matanya, dan sesaat kemudian dirasakannya badannya berputar kencang. Lalu mendadak berhenti.
“Bukalah matamu!”

Desi mengerjapkan matanya, dilihatnya pemandangan yang sangat indah dan tidak seperti di dunia manusia.

Pohon buah lechy yang sedang berbuah ranum dan lebat serta mudah di jangkau, terlihat sejauh mata memandang.  Buahnya besar dan mengkilat. Harum buahnya tercium kemana-mana. Hmmmmm……..wangi …..

Tangan Desi menggapai ingin memetiknya, tapi Sendal Ajaib mengingatkannnya.

“Jangan Desi, buah Lechy itu ada yang memilikinya, kita harus meminta ijinnya terlebih dahulu”
“Kau benar, aku tidak boleh lancang , terimakasih Sendal Ajaib”
“Ayo kita temui pemilik kebun Lechi ini, siapa tahu ia mau memberikan sekeranjang buahnya untuk kita”

Merekapun berjalan menyusuri jalan setapak, tak sabar Desi ingin menjumpai pemilik kebun. Desi ingin sekali mencicipi buah Lechy yang menggoda itu.

Tak lama kemudian, sampailah mereka di ujung jalan setapak. Terlihat sebuah pondok  yang asri , di sekitar pondok itu tumbuh bunga beraneka warna, indah sekali. Cerobong asap pondok itu mengeluarkan asap, tanda ada yang sedang memasak di dalam pondok.

Desi mengetuk pintu dengan perlahan sambil memberikan salam.

“Spadaaaa!…”  Ucap Desi berulang kali.

“Yaaaa….sebentarrr……”  Tak lama kemudian pintu terbuka dan seekor Kura-kura besar berwarna kuning memakai baju perempuan berdiri di depan pintu.  Kura-kura itu setinggi Desi .

“Hai….!”   Desi menyapa dengan sedikit terkejut.

” Hai juga…..kalian darimana ? dan mau menemui siapa? “  Tanya Ibu kura-kura dengan raut keheranan.

“Hai Ibu Kura-Kura……aku sendal ajaib , aku kawan dari Pangeran Kura-Kura Biru, ini Desi sahabatku dari negeri manusia”  Sendal ajaib memperkenalkan dirinya dan Desi.

“Hai sendal ajaib, senang berkenalan denganmu, aku pernah mendengar namamu disebut suamiku.  Tak ku kira sekarang aku berjumpa denganmu, senang berkenalan denganmu Desi “  Ibu Kura-Kura Kuning tersenyum bahagia, lalu ia mempersilahkan  mereka masuk.

Pondok itu memiliki sebuah ruangan yang besar dan sebuah kamar. Begitu masuk, terlihat sebuah meja makan bundar dan 4 kursi yang menghadap tungku masak . Bau harum masakan tercium menyengat di hidung, membuat perut Desi semakin keroncongan.

Ibu Kura-Kura Kuning menghidangkan tiga gelas air putih yang sejuk dan semangkuk penuh buah Lechy ranum. Mata Desi membelalak senang, bibirnyapun menyunggingkan senyum.  Sendal ajaib ikut tersenyum juga. Mereka tak perlu meminta, karena tuan rumah telah menyediakan.

Setelah mengobrol tentang segala hal dan puas menikmati buah Lechy, Desi dan sendal ajaib pamit untuk berkeliling di Negeri Kura-Kura. Ibu Kura-Kura Kuning membekali mereka dengan sekeranjang buah Lechy dan sekotak kue bolu Lechy panggang. Desi sangat senang, diciumnya Ibu Kura-Kura Kuning sampai berkali-kali.

Sambil melambaikan tangan, Desi dan sendal ajaib  berjalan menapaki jalan setapak yang berada di belakang pondok.  Tak berapa lama berjalan, mereka mendengar suara gemericik air, tanda ada sungai di dekat mereka. Betul saja, ada sungai mengalir di depan jalan setapak.

Kali ini, Desi kembali dibuat berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya. Sungai itu tidak terlalu lebar dan dalam, hanya sebatas mata kaki. Namun warna sungai itu ungu muda dan airnya berkemilau seperti berlian.

“Lihat Desi, batuan sungainya adalah batu giok”

“Indah sekali…….baru kali ini aku melihat keindahan seperti ini, menakjubkan!”

“Hei….!  Lihat sendal ajaib, diseberang sungai terhampar ladang gandum!”

“Ya, indah berkilau seperti logam emas !  Desi, coba kau cicipi air sungai ini, rasanya enak sekali seperti buah Plum”

Desi bergegas mengambil setangkup air sungai dan meminumnya.

“Ahhh…..segar dan enak sekali rasanya!”

“Kalau kau sudah puas meminumnya, mari kita menyeberang”

“Sendal ajaib, bolehkah aku mengambil batu giok yang kecil ini untuk oleh-oleh?”

“Aku rasa, karena sungai ini tidak ada yang memiliki, bolehlah kau ambil beberapa buah untuk kenang-kenangan”

Desi dengan gesit memilih batu giok yang indah-indah itu. Tak berapa lama kemudian, mereka melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai menuju ladang gandum.

Semilir angin menggoyang-goyangkan batang gandum, membuatnya seperti sedang menari. Terlihat beberapa ekor kura-kura besar berwarna hijau sedang memanen.  Badan mereka yang besar bergerak cepat menuai gandum, menaruhnya di atas punggung dan membawanya ke kereta gandum. begitu terus berulang-ulang.

cerita sebelumnya : disini

bersambung.

Share

About mamah imels

A simple mother ......