Dongeng Putri Purnama

Oleh: Ahmed Tsar dan Uleng Tepu  I Editor: Dian

Reni dan Ahmed (http://www.wallcoo.net/)

Sehabis Isya, Reni bermain uber benteng bersama Ahmed, Imam dan Paris. Jika langit malam sedang cerah, maka Reni akan menghabiskan beberapa jam bermain di halaman rumahnya bersama ketiga temannya tersebut. Apalagi malam ini bulan purnama menghias langit, maka makin senanglah keempat anak tersebut berlari ke sana kemari.

“Sudah dulu ya… aku capek…!!” teriak Reni ke arah teman-temannya bercampur suara terengah-engah. Lalu, ia berbalik menuju beranda rumahnya. Di sana, kakeknya sudah duduk menunggu di bangku panjang yang terbuat dari bambu.

“Hehehe… cucu kakek keringetan. Sini, sini,minum dulu,” sambut kakek sambil menyodorkan segelas air minum. Dengan segera, Reni menerima gelas itu.

“Terimakasih, Kek. Waah, segar rasanya.”

Kakek tersenyum kecil melihat tingkah cucunya itu. Diusap-usapnya kepala Reni.

“Kek….”

“Mmh… iya, Nak.”

“Sudah lama Kakek tidak berdongeng buat Reni. Reni kangen.”

Kakek menghisap lintingan rokok tembakaunya. Matanya terpejam beberapa saat.

“Baiklah. Malam ini kakek akan mendongeng  buat cucu Kakek yang manis.”

“Asyik….” Reni melonjak kegirangan.

“Eh, tunggu ya, Kek. Reni manggil teman-teman dulu.”

Tak lama kemudian, teriakan Reni nyaring memanggil teman-temannya.

“Teman-teman, Kakek mau mendongeng. Mau dengar, nggak?”

Beberapa menit kemudian, susul menyusul Ahmed, Imam dan Paris telah berkumpul mengelilingi kakek Reni.

“Sebelum kakek mulai mendongeng, coba kalian lihat ke langit. Coba kalian amati, di bulan purnama ada gambar apa?” Mata keempat anak tersebut serentak mengikuti arah telunjuk kakek.

“Mana, Kek? Mana?” suara mereka bersahutan karena penasaran. Mereka lalu berdiri sambil berdesakan hanya karena ingin melihat jelas bulan yang sedang nampak penuh itu.

“Nggak ada gambarnya, Kek,” sahut Ahmed.

“Ada, kok. Ayo, coba amati sekali lagi. Yang ada hitam-hitamnya itu lho…”

“Aku tahu… aku tahu.. Itu gambar sungai kan, Kek,” kata Paris girang.

“Mana? Mana? Jangan bohong, Ris,” sahut Reni, Ahmed dan Imam berbarengan.

“Hehehe…coba ikuti telunjuk Kakek, ya. Jawaban Paris hamper benar. Tapi di sana bukan gambar sungai.” Kemudian telunjuk kakek menggambar rangkaian garis berkelok ke kiri dan ke kanan.

“Jalan Raya… .Pohon… Ketapel” Reni, Imam dan Paris bersahut-sahutan menerka gambar yang dibentuk telunjuk kakek.

“Tadi siapa yang menjawab pohon?”

“Saya, Kek” sahut Imam.

“Imam benar, itu gambar pohon. Ayo sekarang kalian kembali duduk. Nah, kakek mau mendongeng tentang pohon bersama putri yang tinggal di rembulan. Kakek mulai, ya dongengnya….”

“Tunggu, Kek!” potong Reni.

“Mana gambar putrinya, Kek?” ia berdiri kembali dengan mendongakkan kepalanya ke arah bulan.

“Itu yang duduk bersandar di batang pohon, ” kata  kakek sembari jemari tangannya memperagakan sosok yang sedang duduk bersandar. Mendapat jawaban seperti itu, Reni malah menggaruk-garuk kepalanya.

“Eh, Tapi kenapa putri itu duduk di situ, Kek?”

“Reni penasaran, ya. Mau tahu jawabannya, kalau gitu dengerin cerita kakek ya. Begini ceritanya…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alkisah pada zaman dahulu kala, di tanah Nusantara, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran buah hati. Mereka telah berdo’a siang malam, tetapi tak satupun doa tersebut dikabulkan. Hingga suatu hari seorang pertapa raksasa bernama Buto menawarkan bantuan kepada mereka. Buto akan berdoa kepada Dewata agar suami istri tersebut diberi anak, tapi dengan sebuah syarat, setelah anak tersebut berusia sepuluh tahun maka Buto akan datang menjemputnya. Pasangan tersebut setuju dengan syarat dari Buto. Sembilan bulan kemudian, saat bulan bersinar penuh di langit, sang istri melahirkan bayi perempuan. Dinamakanlah bayi tersebut Purnama, sesuai dengan waktu kelahirannya.

kids

Kehadiran Putrinya yang sangat membahagiakan (http://www.wallcoo.net/)

Purnama tumbuh menjadi anak perempuan yang manis, cerdas, lincah, dan patuh pada orang tua. Kedua orang tuanya sangat menyayangnya. Seminggu lagi Purnama genap sepuluh tahun. Orang tuanya menjadi ragu bahkan takut untuk menyerahkan Purnama kepada Buto sebagaimana kesepakatan mereka dahulu. Lalu mereka mendatangi seorang mbah guru yang terkenal sakti. Mereka menceritakan segalanya. Oleh mbah guru, mereka diberi sebuah bungkusan kecil.

“Perintahkanlah Purnama lari saat raksasa Buto datang. Berikan pula buntelan ini padanya,” begitu pesan mbah Guru.

Hari perjanjian pun tiba. Menjelang malam terdengar bunyi gemuruh gempa. Makin lama getarannya makin membesar. Itu adalah derap langkah Buto yang mendekati tempat tinggal Purnama.

“Purnama, kamu harus lari, Nak! Buto telah datang. Jangan pedulikan Simbok dan Bapak. Ia hanya mencarimu,” gemetar suara ibu Purnama meminta anaknya pergi. Ditahannya tangis yang sudah di ujung kelopak matanya. Rasa panik mengalahkan segalanya. Purnama masih kebingungan melihat sikap orang tuanya.

“Tapi kenapa Purnama harus pergi meninggalkan bapak dan simbok?”

“Ceritanya panjang, Nak. Intinya raksasa bernama Buto ingin menangkapmu. Cepatlah lari. Pergunakanlah isi dalam buntelan ini jika kau hampir tertangkap,” kata simbok sambil menyeret tangan Purnama mendekati pintu belakang. Diangsurkannya bungkusan kecil dan sabit kecil ke tangan Purnama.

“Larilah, Nak…” tubuh ringkih bapaknya mendorong Purnama keluar.

Hutan di belakang gubuk menjadi titik aman pertama. Segera Purnama berlari ketakutan. Tangan kanannya memanggul bungkusan kecil, sementara tangan kirinya berayun-ayun menebas batang tanaman yang menghalangi langkahnya.

“Huaha.. ha… ha.. ha…. Jangan kabur, Anak manis. Kemana pun kau berlari, tetap saja kau akan tertangkap. Kedua orang tuamu telah binasa… hua.. ha.. ha.. ha….” Suara Buto terdengar menggelegar di antara rerimbun daun jati dan cendana. Gelegar suara tersebut membuat Purnama merasakan seolah-olah Buto telah sangat dekat, telah menangkap bayangannya,  padahal dia sudah masuk jauh di tengah belantara.

“Celaka! Bagaimana aku bisa melewati lembah ini?” gumam Purnama. Selubung jaritnya telah basah oleh keringat. Nafasnya tersengal-sengal. Dia teringat pesan simbok, jika menemui jalan buntu, maka ia harus membuka bungkusannya. Dengan rasa gugup yang mengepung, sambil terduduk. Tangan kecil Purnama cekatan membuka anyaman kain pembungkusnya.

“Hah.. apa ini?!” Beriring kekagetannya, isi buntelan itu terhampar di depannya. Batang rebung sangat pendek, berhulu hilir runcing, sepotong terasi, sebuah bakal biji pohon, dan sebuah telur ayam. Segera disusunnya kembali isi buntelan yang tadi terhambur.

Kraaak… bruuam… buummm, terdengar menggelegar. Sekarang sosok Buto terlihat jelas di depan Purnama. Sosok yang nampak beringas dengan dua taring besar tajam keluar dari mulutnya. Pepohonan besar nampak bagai belukar rerumputan yang begitu mudah diobrak-abrik oleh Buto.

“Hua.. ha… ha… mau kemana lagi kau, Cah Ayu? Sudah waktunya, Nduk. Sudah waktunya kau menjadi santapanku. Kedua orang tuamu telah ingkar janji. Maka bersiaplah, Nduk…  hua.. ha….” Tanah bergetar bersamaan dengan gelegar suara Buto.

Purnama dicekam kengerian.  Air matanya makin deras keluar.  Ia kebingungan, tak tahu harus melakukan apa. Getaran langkah Buto yang serupa gempa makin menghebat. Badan Purnama terguncang hebat bersama buntelannya. Pikirannya pun guncang. Tiba-tiba ia teringat pesan ibunya untuk menggunakan isi dalam buntelannya jika ia dalam kesulitan. Diraihnya benda yang mudah terjangkau tangannya. Batang rebung. Tak mau kalah dengan derap langkah Buto, Purnama melemparkan batang rebung itu. Namun terlambat, sosok Buto telah nampak di hadapannya.

“Hua..ha..ha..ha… Kau melempar apa, Cah Ayu? Kayu…?” diraihnya batang rebung yang dilempar Purnama. Belum lama Buto menggenggam batang rebung itu tiba-tiba…

Raksasa (http://thelittlechimpsociety.com)

“Aduuhh..biyunngg…tobaat…,” teriak Buto kesakitan.

Ajaib. Batang rebung berubah menjadi sulur-sulur besar yang lama kelamaan membelit tangan Buto. Selain belitan yang kencang, Buto kesakitan karena dari sulur tersebut muncul ranting-ranting berduri tajam. Crasssh…darah muncrat seiring kuatnya hunjaman duri-duri setajam pisau.

Dbbuummm…kembali tanah bergetar. Kali ini guncangannya begitu keras. Belitan sulur berduri telah mengurung Buto, memaksa tubuhnya tumbang.

Melihat Buto yang terkurung, pelan-pelan keberanian menyelinap di hati Purnama. Kepanikannya sirna seketika. Cepat-cepat ia bangkit. Tubuhnya masih limbung.

“Aku harus cepat lari lagi,” batinnya.

Buto memang sedang bergulat dengan kerangkeng yang terus menjalar membelit, tapi Purnama tahu raksasa itu pasti segera terbebas. Amuk Buto lebih beringas daripada belitan sulur tajam yang menghadang.

“Heeeiii…. jangan lari kau, Nduk. Arrrgghh…,” kemarahan Buto makin menjadi-jadi bersamaan langkah Purnama menuruni tangga alam berupa bebatuan berundak. Buto tak menyangka anak itu menemukan jalan untuk kabur. Kabur dengan bantuan alam dan benda-benda ajaib.

“Weladalaah…. beruntung sekali kau, Cah Ayu. Awas kau… Grrrhhh,” geram Buto sambil terus bergumul dengan belitan-belitan yang menyesakkan.

Purnama tersaruk-saruk berlari meninggalkan Buto. Padang tempat dia berlari, terjal berbatu. Namun, ia tak menyerah. Dia harus mencapai dinding jurang di depannya. Di sana ada anak-anak tangga alam.

“Aku harus lolos dari kejaran Buto,” batinnya.

“Kau tidak akan kuat, menyerah saja,” sisi lain hatinya mengatakan hal yang berbeda.

Seakan mendengar suara hati Purnama, Buto berhasil membebaskan diri dari belitan sulur berduri. Raksasa itu kini telah mendekati jurang. Ia tampak lebih menyeramkan. Darah hasil pergulatan dengan sulur-sulur tajam mewarnai seluruh bagian tubuhnya.

“Awas, Purnama! Kau telah melukaiku. Awas kau!! Buuum…. Buuum…,” langkah Buto mantap semantap gelegar ancamannya.

Gema langkah Buto beserta suaranya sesaat mengunci derap langkah Purnama, padahal dia sedikit lagi menyentuh tangga alam di dinding jurang.

“Gusti, lindungi hamba. Hamba takut, ” jerit batin Purnama.

Seolah-olah mendengar doa Purnama, tanpa sepengetahuannya, terasi terlontar keluar dari buntalan. Lagi-lagi keajaiban datang. Terasi tersebut pelan-pelan berubah menjadi lumpur panas.

“Aw, sakit…. Hah, apa ini?” Hawa panas lumpur menyentuh kulit  Purnama. Sontak, kesadaran untuk lolos dari Buto pulih kembali. Tanpa berpikir panjang, dia menaiki tangga alam.

“Cah Ayu, percuma kau lari. Tunggu aku…”

Purnama pun menaiki tangga alam dengan sekuat tenaga. Nafasnya terengah engah.

“Aaarrgghhh…..apa ini…?” Seru Buto melihat lumpur panas yang melebar di depannya.

Bluup… bluupp… bluup… Lautan lumpur panas kini menenggelamkan tubuh Buto. Erangannya susul-menyusul dengan bunyi letupan lumpur panas. Buto megap-megap. Gerakannya yang panik justru menimbul-tenggelamkan kepala raksasa itu.

Kepanikan juga melanda hati Purnama. Dia tak mau mati oleh lumpur yang lama-kelamaan menyusul langkahnya. Tersaruk-saruk langkahnya menaiki tangga alam. Batas jarit di pergelangan kaki kini berpindah di lutut, tapi tetap saja derapnya terhuyung-huyung. Lantai atas jurang sedikit lagi digapai. Tiba-tiba kaki kanannya dicengkeram oleh tangan yang kasar dan besar. Dingin. Wajah bocah bertambah pucat. Belum selesai menghabiskan nafas terengahnya, dia terjatuh.

“Hua..ha..ha..ha…ha….,“ tawa Buto terdengar begitu mengerikan. Namun keajaiban lagi-lagi datang. Bakal biji terjatuh terlebih dahulu ke bumi. Lalu, berubah menjadi pohon raksasa yang tumbuh sangat cepat. Purnama beruntung, ia langsung jatuh di atas dahan pohon paling atas dan langsung terbawa menuju langit. Buto terkejut melihat hal itu. Pohon itu tumbuh begitu cepat.

Purnama telah tak nampak dari pandangan matanya. Pohon itu telah membawa Purnama jauh ke atas, menembus awan. Amarah Buto telah mengubun-ubun setelah ia gagal dua kali menangkap Purnama.

“Kali ini aku harus berhasil menangkapmu, Cah Ayu!” teriaknya sambil mulai memanjat batang pohon itu.

Untuk sementara Purnama menarik napas lega. Sang raksasa jauh tertinggal di bawah. Pohon yang membawanya bergerak cepat ke atas hingga dia kini telah tiba di bulan. Anehnya, pohon itu berhenti tumbuh saat telah menyentuh bulan. Kali ini bulan tampak sempurna. Purnama takjub melihat bentuk bulan yang demikian besar dengan sinar yang kemilau. Hatinya damai. Untuk sementara ia melupakan kepanikannya usai dikejar Buto. Namun, itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba ia merasakan getaran pada pohon tempatnya duduk. Rasa was-was kembali menyergap. Tangannya refleks meraih benda terakhir dalam buntalannya, sebutir telur ayam.

Getaran makin kuat. Purnama mulai panik. Dilemparkannya telur ayam itu ke bawah. Telur itu melaju cepat hingga sampai ke bumi. Ajaib, telur itu lalu menetas menjadi ayam jago dewasa kemudian berkokok dengan sangat lantang, padahal hari masihlah gelap. Mendengar suara kokok ayam tersebut, bulan yang ditumpangi Purnama mengira hari sudah pagi, maka bulan tersebut segera menuju peraduannya untuk memberi kesempatan pada matahari menjalankan tugasnya.

Pergerakan bulan tersebut, membuat pohon tumpangan Purnama patah, sementara Buto sudah setengah perjalanan mendakinya. Patahnya pohon tersebut tidak disadari Buto hingga akhirnya pohon itu tiba-tiba oleng dan tidak sekukuh saat awal dia memanjatnya. Buto tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat pohon tersebut tumbang.

Bbuuum… terdengar bunyi menggelegar. Pohon dan tubuh Buto jatuh berdebam ke bumi. Batang pohon yang besar menindih tubuh Buto hingga tak bergerak. Buto tewas seketika. Sementara itu, Purnama juga terjebak di bulan. Meskipun selamat dari kejaran Buto, tetapi  ia tak bisa kembali lagi ke bumi. Hal itu membuat Purnama bersedih hati. Ia berdo’a dalam hati agar ia bisa kembali ke bumi, namun sebuah suara berkata padanya.

“Purnama, terimalah takdirmu untuk tinggal di bulan. Ini sebagai pelajaran atas sikap orang tuamu yang ingkar janji. Kau selamat dari kejaran Buto, namun kau tidak bisa lagi kembali ke bumi tempatmu semula.” Tiba-tiba sang Rembulan berbicara.

Purnama bersedih mendengar suara bulan itu. Ia hanya bisa menangis dan bersandar pada batang pohon yang membawanya ke langit. Ia merindukan warna-warni bunga, kepak sayap kupu-kupu yang bercumbu dengan mahkota-mahkota bunga, sejuknya embun pagi, juga hangatnya matahari. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa. Melompat dari pohon itu hanya akan membuatnya bernasib sama dengan Buto, maka Purnama pasrah menerima nasibnya. Berdiam di bulan. Maka sejak itulah pada permukaan bulan akan nampak lukisan pohon dan seorang perempuan yang duduk di atas pohon.

Purnama di Bulan (http://putrisshoes.blogspot.com)

~~~~~~~~~~~~~~~~

Usai sudah kakek mendongeng untuk Reni dan ketiga temannya. Bola mata keempat anak itu masih terkesima mendengar cerita kakek. Lalu pandangan mereka beralih menatap bulan purnama.

“Kasihan  si Purnama, ya Kek. Di sana dia kesepian,” gumam Reni.

“Iya…namun itu adalah takdir yang harus dijalaninya.”

“Andai aku punya sayap, pasti sudah kujemput Purnama. Membawanya ke bumi.” Ahmed mulai menghayal, kemudian diikuti ledekan teman-temannya.

“Hehehe…sayapmu ga akan kuat, Med. Lagipula bulan itu jaaauuuuuhhhhh.”

“Iya betul itu kata Reni, kamu bisa megap-megap,” Paris menambahkan.

“Hehehe… sudah-sudah. Kalian tidak usah berdebat. Sekarang sudah jam setengah sembilan. Sudah waktunya kalian pulang. Orang tua kalian nanti khawatir.”

“Iya.. nanti dikira kalian diambil raksasa Buto… hiii…,” kata Reni kembali jahil menakuti teman-temannya.

“Alah.. .kami gak takut. Buto kan sudah mati, Ren.”

“Hehehe, iya, yah….”

“Kek, kalau begitu kami pamit pulang. Terima kasih sudah mendongeng buat kami,” pamit Ahmed yang kemudian diikuti oleh dua temannya.

Malam semakin larut. Kakek mengajak Reni masuk. Sudah waktunya cucunya itu tidur, sebab esok dia harus ke sekolah pagi-pagi.

 

Share

About roni