Penulis : Bunda Imels
Ini adalah cerita tentang kasih yang tak sampai dari sebuah desa bernama Desa Kerdil.
Di tahun 1945, saat Perang Kemerdekaan.
Desa Kerdil diserang oleh musuh, di desa ini hampir semua penduduk lelakinya adalah pejuang kemerdekaan. Desa Kerdil dikepung dan dihujani tembakan serta ledakan. Para pejuang gugur dan penduduk desa lainnya mati, kecuali bayi kecil mungil bernama Ipah.
“Oeeekkkk…, oeekkk…,” Ipah kecil menangis kelaparan dan kedinginan.
Semua tumbuhan bersedih atas apa yang terjadi di Desa Kerdil. Mereka lantas bersepakat untuk menyerahkan kepengurusan Ipah kecil pada pohon pisang.
“Mengapa harus aku? Aku merasa tak pantas mengurus bayi manusia.” Pohon pisang menyampaikan keberatannnya.
“Pohon pisang, hanya engkau yang dapat menurusnya dengan baik. Hanya engkau yang mempunyai banyak cadangan air di musim kemarau, daunmu panjang dan kokoh sehingga dapat melindunginya dari panas terik matahari dan siraman hujan. Pelepahmu dapat memhangatkannya dan dapat menjadi pakaiannya. Buahmu sangat cocok untuk bayi manusia.” Ucap Pohon singkong.
“Betul sekali, karena itu kami memutuskan bahwa hanya engkau yang pantas.” Ucap pohon rambutan yang di setujui oleh semua pohon di Desa Kerdil.
Akhirnya pohon pisang mau mengurus Ipah kecil. Diangkatnya bayi mungil itu perlahan sambil di tetesinya mulut bayi kecil itu air dari pelepah pisangnya. Ipah kecil berhenti menangis, rasa dahaganya telah hilang. Ia pun merasa hangat dalam dekapan dedaunan pisang dan merasa nyaman berada dekat dengan jantung pisang.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Ipah kecil sudah bertambah dewasa. Pohon pisang mengurusnya dengan baik, sehingga tubuhnya terlihat padat berisi dan kulitnya sangat halus. Itu karena sejak bayi ia memakan buah pisang yang lezat dan harum serta penuh gizi.
Lihatlah! Ipah terlihat cantik dengan lilitan pelepah pisang yang sudah dikeringkan. Rambutnya tergerai indah, hitam mengkilat. Kali ini daun lidah buaya dan kemiri yang berjasa mengurus rambutnya.
Semua tanaman senang dapat mengurus Ipah juga . Mereka saling bergantian mengirimi Ipah makanan. Ipah sangat bahagia, karena semua tanaman menyayanginya.
***
Suatu hari, ketika matahari sudah meninggi, Ipah dan semua penghuni desa mendengar suara bising yang makin lama makin mendekat. Pohon pisang dengan cepat memanggil Ipah dan menyuruhnya untuk bersembunyi di balik pelepahnya.
“Nggiinnggg…!”
“Treeekkk…, treeekkkkk…, gedebum…!”
Bunyi itu terdengar berulang – ulang dan semakin lama semakin dekat. Semua tanaman ketakutan. Daun dan ranting mereka mendadak menunduk layu. Tanda takut yang amat sangat. Mereka teringat peristiwa belasan tahun yang lalu, saat desa di serbu musuh.
Akhirnya, terlihat juga, apa yang menyebabkan para tanaman begitu ketakutan.
Terlihat beberapa orang penebang kayu sedang menebangi pohon dengan mesin potong. Ketika sampai di Desa Kerdil, mereka mendadak menghentikan pekerjaannnya.
“Hai! Ternyata di dalam hutan ini ada sebuah desa.”
“Ya! Namun, desa ini nampaknya sudah lama tidak dihuni”
“Betul, lihat saja! Banyak bangunan rumah yang hancur. Tampaknya desa ini di bumi hanguskan ketika perang kemerdekaan”
“Tapi, kalau desa ini di bumi hanguskan oleh musuh, mengapa tak ada sisa tengkorak?”
“Iya, yahhh. Aneh juga”
Mereka tidak tahu, kalau semua jenazah para pejuang dan penduduk desa dikubur oleh para tanaman di bawah akar mereka.
“Tampaknya, kita bisa menggunakan desa ini sebagai tempat beristirahat untuk tim kita, sekarang sudah pukul 11.30. Sersan Budi, perintahkan pada prajurit untuk menyisir desa ini dan membangun base camp!”
“Siap Letnan! Perintah dilaksanakan!” Sersan Budi menerima perintah dengan takzim. Ternyata rombongan itu adalah para tentara nusantara yang sedang membangun negara dengan cara membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan.
Ipah memperhatikan mereka dengan teliti, ia sangat senang karena akhirnya ia bertemu dengan mahluk yang dinamakan manusia oleh para tanaman. Walaupun tak sama dengan dirinya. Manusia yang dilihatnya, semuanya berbadan tegap dan berkulit hitam. Tidak seperti dirinya yang mungil dan berkulit kuning. Rambut mereka pendek sekali dan bersuara keras.
Para tentara sibuk merapihkan desa yang sudah lama tak dihuni. Rumah yang rusak di betulkan, sisa – sisa rumah yang ambruk sebagian dijadikan kayu bakar. Dalam waktu yang tak lama, Desa Kerdil kembali bersih . Desa Kerdil terlihat indah, semua tanaman merasakan kembali kehidupan desa yang dulu. Para tanaman menyukainya.
Para tentara bekerja keras siang dan malam membuka hutan dan bercocok tanam. Mereka membuat saluran air dari sungai yang ada menuju lahan ladang. Saluran air itu melalui bagian tengah desa, sehingga sekarang desa terdengar lebih ramai dengan suara gemericik air.
Semua yang dilakukan oleh tentara itu, membuat Ipah senang. Ipah ingin menemui mereka, tapi para tanaman melarangnya. Ipah pun menurut.
Namun sayang, keberadaan para tentara itu hanya sebentar, mereka belum sempat menuai tanaman jagung yang sedang berbuah. Sebuah perintah datang, mereka harus berperang kembali. Para tentara pergi untuk kembali membela negara. Kini Desa Kerdil kembali sepi.
Sudah satu bulan desa kembali sepi, tanaman jagung sudah menguning. Ipah pun memanennya, hasil panen disimpannya di dalam lumbung untuk makanan para binatang. Di lahan yang luas itu, Ipah menanaminya dengan pohon pisang. Sambil bercocok tanam, Ipah bernyanyi. Suaranya sungguh indah dan terdengar sampai di balik lereng bukit.
Saat Ipah bernyanyi, pantulan suaranya terdengar menggema di lereng bukit. Kebetulan saat itu seorang laki-laki bersenjata sedang berlari kencang menembus hutan. Napasnya tersengal-sengal, ia nampak kecapaian. Sambil berlari, sayup-sayup di dengarnya suara Ipah bernyanyi, lantas diputuskannya untuk mengikuti arah suara Ipah.
Akhirnya sampailah ia di ladang tempat Ipah bercocok tanam. Dilihatnya Ipah sedang bernyanyi sambil menyiram tanaman pisang. Ia pun menghampiri Ipah sambil tetap berlari.
Ipah sangat kaget, melihat seorang manusia datang ,mendekatinya. Ipah berhenti bernyanyi. Ipah diam terpaku, tak tahu harus berkata apa. Tanaman pisang menyuruhnya untuk cepat-cepat bersembunyi di balik pelepahnya. Namun Ipah seperti tak mendengar. Ipah sangat kaget, karena ia melihat manusia dalam bentuk yang lain.
“Help me!” Ucap laki-laki itu sambil memegang tangannya dengan nafas memburu. Ipah tak mengerti dengan ucapan laki-laki itu. Tapi Ipah tahu laki-laki itu haus, maka di sodorkannya ember berisi air untuk menyiram tanaman kepada laki-laki itu.
“Minumlah!” Ucap Ipah. Laki-laki itu mengerti dan dengan cepat meminum air yang ada di ember, setelah puas minum, sisa air di ember dipakainya untuk mencuci muka. Ia tampak lega. Ia pun tersenyum pada Ipah.
Ipah mengajaknya masuk ke dalam desa. Semua tanaman disana terkejut dengan kedatangan lelaki asing. Sama seperti Ipah, mereka memperhatikan dengan seksama lelaki asing ini. Pakaiannya mirip tentara nusantara, namun berbeda warna dan corak. Kulitnya putih kemerah-merahan dan rambutnya berwarna seperti rambut jagung. Badannya tinggi sekali . Bahasanya pun aneh.
Ipah menyuruhnya untuk tinggal di sebuah rumah di Desa Kerdil.
Sudah tiga bulan laki-laki itu tinggal di Desa Kerdil, Ipah dan lelaki asing itu saling mengajari. Kini mereka bisa berkomunikasi dengan baik. Lelaki itu bernama Roby, ia seorang serdadu Belanda.
Lama-lama, Ipah dan Roby saling jatuh hati. Mereka merajut kasih dengan bahagia.
Namun kebahagiaan mereka tak lama, tentara nusantara kembali lagi ke Desa Kerdil. Ketika Ipah dan Roby hendak melarikan diri, mereka tertembak. Ipah terluka di kaki, sedangkan Roby tewas tertembak. Ipah dengan susah payah melarikan diri dibantu oleh para tanaman.
Ipah sampai di ladang pohon pisang, ia sangat sedih karena kekasihnya telah meninggal. Dipeluknya batang pohon pisang, mengadukan segala kesedihannnya. Pohon pisang memeluknya dengan erat sehingga mereka menyatu dan ditidurkannya Ipah di jantung hatinya.
Sejak saat itu, Ipah tak ingin keluar dari pohon pisang. Ia tetap bersembunyi di jantung pisang.
Sejak saat itu pula, setiap kali kelopak jantung pisang merekah , kelopak itu meneteskan banyak air. Itu adalah air mata kesedihan Ipah untuk kekasihnya tercinta.
0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Cinta tak mengenal batas. Cinta pada sesama mahluk diperlihatkan oleh kasih sayang antara Ipah dan para tanaman . Cinta tak mengenal warna kulit, bahasa dan bangsa, hal ini diperlihatkan oleh kasih sayang antara Ipah dan Roby. Cinta kepada tanah air membuat para pejuang masing-masing negara rela pergi berperang.
Karena cinta pula, aku berbagi rasa melalui tulisan. Menembus perbedaan yang ada, menembus relung jiwa.








