Matahari dan Angin Berebut Topi

Penulis: Tante Paku | Editor: Afandi, Edi Kusumawati

angin

Angin (http://dogfoose.com)

Yang dibutuhkan di dunia ini bukanlah nasihat, tetapi contoh karena setiap orang bodoh pun bisa memberi nasihat. Sebab seorang yang bodoh selalu mengosongkan kepalanya setiap kali ia membuka mulutnya. Semakin bertambahnya tahun, semakin bertambahnya manusia membuat alam mengalami banyak perubahan karena ulah dari sebagian manusia yang tidak mengenal Tuhan dengan benar. Apakah merusak alam adalah karena cintanya kepada Tuhan yang telah memberikan bumi dan seisinya ini kepada kita untuk bebas kita memperlakukannya?

Akibatnya alam pun sering tidak dianggap bersahabat ketika bencana alam melanda. Cuaca cepat sekali berubah bahkan sering tidak sesuai dengan ramalan cuaca.  Ramalan sering mengagulkan kesombongan ilmu pengetahuan sendiri daripada mencari hikmat Tuhan. Jangankan kita, alam yang “sombong”pun pasti Tuhan mengetahui-Nya,
karena siapa yang bisa sembunyi dari mata Tuhan di seantero kolong langit ini?

Siang yang panas, tetapi belum menyengat, bertemulah Angin yang lagi sombong karena merasa membuat kesejukan akibat ulah Matahari yang tak mau mengurangi sinarnya. Mereka terlibat pembicaraan tentang kehebatan masing-masing. Dengan congkaknya berkatalah Angin kepada Matahari.

“Hei Matahari, asal kamu tahu, akulah yang menguasai dunia ini!”

“Ah, yang benar,” jawab matahari sembari tersenyum.

“Lho kamu meragukan kehebatanku? Kalau mau tahu mari kita adu kesaktian saja!” tantang sang Angin dengan sombongnya.

“Baiklah kalau kau menghendakinya, tapi caranya gimana?”

“Lihatlah di bawah sana ada orang yang sedang berjalan mengenakan topi. Nah siapa yang dapat melepas topi yang dipakainya, itulah yang menang!”

“O begitu, baiklah. Lantas siapa yang memulai terlebih dahulu?”

“Biarlah aku dulu yang memulainya,” sahut Angin yang lalu menghembuskan angin dengan sekuat tenaga ke arah orang yang mengenakan topi itu. Tapi sial baginya, begitu ada hembusan angin kencang orang tersebut justru memegang topinya dengan erat karena takut terbawa angin.

Sang Angin pun semakin kuat meniupkan angin sampai terkentut-kentut dan akhirnya kehabisan nafas.

“Hos, hos, hos….,” nafasnya tersengal-sengal, tapi orang yang mengenakan topi itu masih kuat memegang topinya. “Oke, aku menyerah, sekarang giliran kamu Matahari ….hos…hos…hooosss….”

Dengan tersenyum Matahari mulai unjuk kesaktian. Sinarnya semakin terik untuk menghasilkan panas yang melebihi panas-panas sebelumnya. Segala sesuatu akan datang kepada yang sabar menunggu. Akhirnya saking panasnya, orang yang mengenakan topi itu melepaskan topinya untuk dikipas-kipaskan ke tubuhnya yang kegerahan.

Melihat kejadian itu, sang Angin terdiam seribu basa, tak bisa berkata-kata lagi. Dengan rasa malu ia pun pergi tanpa pamit. Entah masih bisa sombong atau menjadi rendah hati?

Demikianlah para pembaca dan adik-adik sekalian, dalam hidup ini jika kita mempunyai kelebihan jangan menyombongkan diri. Sebab masih banyak orang yang kelebihannya di atas kita, tetapi tidak menyombongkan diri.
Rendah hati bukan rendah diri. Rendah hati Tuhan pasti menyukai. Sudahkah kita merendahkan hati?

sun

Matahari (http://yahoo.com.flash-screen.com)

 

Share

About roni