Menginjak Bulan

Penulis: Daeng Anto dan Herlya Annisa | Editor: Dian, Edi Kusumawati Aso dan Asi adalah dua orang kakak beradik yang tinggal di sebuah desa yang indah dan asri. Mereka berdua sangat […]

Penulis: Daeng Anto dan Herlya Annisa | Editor: Dian, Edi Kusumawati

Aso dan Asi adalah dua orang kakak beradik yang tinggal di sebuah desa yang indah dan asri. Mereka berdua sangat dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Dimana ada Aso, disitu pasti ada Asi mengikuti.

Setiap hari Aso dan Asi selalu bermain bersama. Terkadang mereka bermain mobil-mobilan yang terbuat dari kulit jeruk bali. Dan dilain hari mereka pun tak jarang bermain boneka kain atau petak umpet. Mereka sangat senang dan bahagia. Bagi Aso dan Asi, tiada hari tanpa bermain dan bercanda bersama.

Pada suatu hari, Aso dan Asi sedang duduk bersama di beranda depan rumah mereka. Aso bercerita tentang bulan purnama yang indah. Asi yang sama sekali belum pernah melihat bulan tampak mendengarkan dengan seksama.

“Bulan itu seperti apa, Kak?” tanya Asi pada kakaknya.

“Bulan itu indah dan bercahaya. Warnanya putih seperti susu,” jawab Aso menerangkan.

Aso meneruskan bercerita tentang indahnya bulan purnama. Asi semakin tertarik mendengarnya. Tiba-tiba Asi berdiri dan berlari menuju dapur, mendekati ibunya yang sedang memasak.

“Ibu, Asi ingin melihat bulan,” pinta Asi pada ibu.

Ibu yang sedang menggoreng tempe berhenti sejenak, lalu berkata, “Asi kan harus tidur. Tidak baik main diluar malam hari.”

“Asi ingin melihat bulan, Bu,”  rengek Asi pada ibu. Dia mulai menangis.

Ibu sebenarnya tidak tega melihat Asi yang terus menagis. Tapi ibu tidak mungkin mengizinkan Asi main di malam hari. Ibu khawatir pada kesehatan Asi. Ibu takut Asi kedinginan dan jatuh sakit karenanya.

Saat Asi menangis, datang Aso menghampiri. Aso pun mulai membujuk ibu agar mengijinkan Asi main di luar malam ini. Mulanya ibu tetap tidak mengizinkan, tapi Aso terus berusaha membujuk ibu dan meyakinkannya bahwa Asi akan baik-baik saja.

“Baik, Ibu izinkan, tapi dengan satu syarat, ” ujar ibu akhirnya.

“Horeeee…!!” Asi bersorak riang.

“Syaratnya apa, Bu?”  tanya Aso.

“Malam ini, kita semua:  Ayah, Ibu, Aso dan juga Asi akan melihat bulan bersama-sama,” jawab ibu.  “Tapi Asi jangan nakal dan Aso harus menjaga Asi,” lanjutnya.

“Horeeeee…!!” Aso dan Asi bersorak bersama.

“Aso pasti akan menjaga As,.” ujar Aso pada ibu.

Ibu mengangguk dan tersenyum lalu memeluk mereka berdua.

Malamnya harinya, Ayah, Ibu, Aso, dan Asi berkumpul di beranda untuk melihat bulan purnama. Asi tampak tak sabar. Dia terus saja mondar-mandir dan bertanya pada ayah dan ibu.

“Ibu, bulan itu seperti apa?” tanyanya kepada ibunya.

“Ayah, siapa yang membuat bulan?” tanyanya kepada ayahnya.

“Bolehkah Asi bermain di bulan?”

Asi terus menerus bertanya membuat ayah dan ibu kewalahan untuk menjelaskan.

Akhirnya bulan yang dinanti-nanti itu muncul juga. Bentuknya bulat penuh dan bercahaya terang, putih kekuningan warnanya. Indah sekali. Asi yang baru pertama kalinya melihat bulan terus menerus bersorak dengan girangnya. Tangannya yang kecil terulur ke atas, seolah ingin menyentuh bulan.

dongeng anak nusantara

http://duniaanak.grou.ps/photos/item/dunia-anak

“Asi ingin memegang bulan,” ujar Asi tiba-tib.

Ayah dan ibu terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin keinginan Asi dapat terkabul. Tentu saja hal itu tak mungkin dilakukan. Asi tidak mungkin dapat menyentuh bulan karena bulan letaknya sangat jauh dari bumi.

“Asi, Asi tidak mungkin memegang bulan. Bulan itu ada di atas sana. Dan letaknya jauh sekali,” kata ibu berusaha menjelaskan. Tapi Asi terus saja merengek dan menangis. Dia sangat ingin menyentuh bulan. Ayah dan ibu kewalahan, tidak dapat menenangkan Asi yang terus menangis.

Tiba-tiba Aso berdiri dan berlari masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama kemudian Aso keluar lagi dengan membawa sebuah baskom yang berisi air. Perlahan, Aso tempatkan baskom itu tepat di bawah bulan yang sedang bersinar dengan indahnya. Dan bayangan bulan pun muncul pada air di dalam baskom.

Aso mendekati Asi yang masih menangis lalu berbisik di telinga Asi. “Ayo ikut kakak!” ucapnya.

Asi menurut dan berjalan di belakang Aso. Aso berjongkok di depan baskom. Asi pun melakukan hal yang sama.

“Ayaaah, Ibuuu, ada bulan dalam air!” teriak Asi sesaat setelah dia melihat air di dalam baskom.

“Asi bisa pegang bulan!” Asi berteriak lagi sambil memasukkan kedua tangannya kedalam baskom. Suara air berkecipak di tangan Asi. Sebagian airnya terciprat ke tanah. Tiba-tiba Asi berdiri. Tanpa ragu dia mencelupkan kedua kakinya ke dalam air. Asi melompat-lompat ceria. Ayah, ibu dan Aso terpingkal-pingkal melihat kelakuan Asi yang sangat lucu. Asi tak peduli. Dia terus saja melompat-lompat di dalam baskom. Bibirnya tak henti berceloteh riang.

“Asi bisa menginjak bulan,” begitu ucapnya.

 

Share

About roni