Pak Tani dan Ladangnya

Penulis: Singgih Swasono |Editor: Afandi

Pak Tani (http://us.123rf.com)

Tersebutlah di suatu desa lereng gunung, dekat hutan. hamparan ladang penuh semak belukar, sepi. Ladang ditinggal oleh para petani dan pemuda-pemudi disekitar lereng gunung  pergi merantau ke kota dan keluar negeri. Dan yang tinggal di desa itu, tinggal ibu-ibu, orang yang sudah tua, pemuda tanggung dan anak-anak kecil masih pada sekolah.

Padahal desa dilereng gunung itu tadinya ladangnya subur, ada sungai mengalir membelah desa dan ada sungai-sungai kecil untuk mengairi sawah, airnya jernih banyak ikan-ikan kecilnya. Tapi sayang semuanya tidak pernah diurus, dirawat, dipelihara, jadi tidak subur dan ditinggal begitu saja. ladangnya rusak karena penggunaan pupuk kimia (Urea, ZA, TSP) dan obat-obat pembasmi hama yang melebihi dosis, tanahnya tidak subur jadi hasil ladang sedikit.

 

Tapi d isitulah tinggal Pak Tani dan Bu Tani, rumahnya menyendiri di pinggir desa dan  cukup jauh dari rumah tetangga lainnya. Pak Tani tetap bertahan dan setiap hari pergi ke ladang, habis Sholat Shubuh berangkat ke ladang. dan baru pulang dari ladang kalau matahari sudah muncul di ufuk timur, menyinari bumi. istrinya pagi subuh sudah menjarang air dan masak, menyiapkan makan pagi buat Pak Tani. setelah mandi dan makan pagi selesai, Pak Tani pergi lagi ke kebun sayur bersama Bu Tani. mereka suka sekali menanam tanaman buah-buahan.

Rumahnya sangat sederhana terbuat dari gedeg bambu anyaman dengan tiang-tiang kayu kasar, demikian juga pintu dan jendelanya, atapnya dari daun rumbia. terlihat didepan rumah tanaman labu siam merambat, dan pepohan seperti Pisang, Pepaya, Sirsak, Kelapa, Salak, Jambu, pohon buah ini selalu berbuah sepanjang musim.

Dan siang hari baru pulang ke rumah setelah mendengar suara Adzan, itulah jam-jam istirahatnya. Pak tani dan Ibu Tani sangat taat menjalankan Ibadah Sholat walau hidup berdua, Pak Tani hidupnya sederhana. Berkat kesabaran dan ketekunan selama bertahun-tahun sudah mulai ada hasilnya, tadinya banyak warga desa yang mencemoohnya.

Hidupnya dari hasil ladang seperti menjual sayur mayur dan buah-buahan kepasar, dan sebagian hasilnya ditabung setelah banyak buat beli Kambing, Sapi, Ikan dan lain-lain untuk diperlihara. Pak Tani dan Bu Tani sangat dermawan, suka memberi dan membantu para tetangganya. Demikian juga pada anak-anak kecil,  selalu diberi buah2an hasil kebunnya.

Di samping  kanan kiri  depan dan belakang rumahnya sekarang tumbuh dan mulai berbuah, seperti Rambutan, Durian, Mangga, Petai, Jengkol, Nangka, Duku, Manggis, Sukun, Alpokat, kopi, coklat, dan akan berbuah pada musim-musim tertentu dan dinamakan pohon buah musiman.

Dan di antara pohon2 itu kalau pagi, siang dan sore yang cerah, banyak sekali burung kutilang, prenjak, pudang, pada bermain di antara pohon2 buahnya. burung2 tersebut suka sekali makan ulat-ulat hama tanaman. Di samping itu diantara daun2 pohon ada sarang semut rangrang, ini juga suka makan ulat-ulat kecil dan juga hama lainnya. Jadi anak-anak tidak boleh mengganggu apalagi diburu, Pak Tani akan marah.

Tidak jauh dari rumah Pak Tani dan Bu Tani ada kolam ikan air tawar yang cukup luas, isi kolamnya berbagi macam ikan ada Gurame, Patin, Bawal, Jaher, Gabus, Lele, berbagai jenis Ikan Mas, di samping kolam ada tanaman talas, daun talasnya buat makan ikan-ikan peliharaannya.

Nah dari mana pupuk tanaman Pak Tani ternyata dari di samping kolam ada kandang ambing, ayam, angsa, bebek, kelinci, dan sapi, yang dibeli dari menabung. Dan di belakang kandang ada lobang untuk menampung limbah/kotorannya, Dari sini Pak Tani dapat pupuk alami, yang bisa menyuburkan semua tanamannya.

Aktifitas Bu Tani sore hari selalu menyapu membersihkan halaman, dari daun2 yang rontok sudah tua, sama Bu Tani setelah kumpul, lalu dibakar. Dan ternyata asap pembakaranya ada manfaatnya selain untuk mengusir lalat buah dan nyamuk atau serangga lainnya, juga untuk merangsang pucuk-pucuk daun muda, cepat tunas. Nah… dari sini Bu Tani bisa mengendalikan hama perusak buah, pantas buah jambunya tidak pernah busuk dalamnya.

Belum pernah kan lihat lalat buah lalatnya kecil sekali, kalau terbang tidak kelihatan. Bertelurnya pada segala jenis buah-buahan yang masih kecil dan akan menetas jadi ulat kecil-kecil di dalamnya, setelah besar  buahnya jelek dan busuk. Kulit buahnya kelihatan utuh dalamnya busuk ternyata penyebabnya lalat ini, nakal. Ini lihat gambar lalatnya, aslinya kecil sekali:

 

 

Di kebun sayur Pak Tani menanam bermacam-macam sayuran, seperti:

 

Cabe besar, cabe rawit, kangkung, bayam, terong, singkong, ubi jalar, sawi, cay siem, kubis, kacang tanah, tomat, bawang merah, bawang putih, sledri, kunir, jahe, laos, ketela rambat. Jagung, kacang panjang, buncis, pare, Oyong/gambas, kecipir, kapri  Nah ini kenapa Pak Tani dan Bu Tani setiap hari pergi ke kebun sayur, disana juga harus rajin membersihkan rumput liar/gulma, supaya kebunya jadi bersih dan hama tanaman pada pergi. Sayur mayur yang sering dimasak itu dihasilkan oleh Pak Tani.

Dan di sawah ada tanaman padi. Di pinggir sawah ada gubug kecil disamping untuk tempat istirahat dipakai juga untuk menjaga tanaman padi sudah mulai menguning. Biasa kalau padi menguning banyak burung pemakan padi, jumlah bisai sampai ratusan bergerombol, terbang-kesana kemari.

Pak Tani juga suka membuat orang-orangan dari jerami, dan dikasih baju bekas dipasang setiap petak diberi rumbai-rumbai di tarik dengan tali yang ujungnya ditarik-tarik dari dalam gubug sambil duduk, biasanya dikerjakan oleh Bu Tani. Fungsinya untuk mengusir burung-burung supaya padi tidak habis dimakan burung-burung itu.

Menanam padi sampai panen lamanya ± 110 hari (3 bulan 20 hari), lama sekali yaa…. setelah itu tanaman padi dipanen dan dijemur supaya kering, baru dibawa ke penggilingan padi, di sana digiling, dikupas kulitnya. Setelah jadi beras baru bisa dimasak, jadi nasi. Nah dari usaha Pak Tanilah nasi yang setiap hari kita makan.

Dari ketekunan kesabaran memanfaatkan lahan, setiap 2-3 hari sekali Pak Tani dan Bu Tani membawa hasil kebun dibawa ke pasar dan dari hasil jualan  Bu Tani beli keperluan dapur seperti, Beras, Minyak goreng, Minyak tanah, kecap, gula pasir, gula merah, ikan asin, tongkol dan jajanan anak-anak. Untuk dibagi-bagikan ke anak-anak tetangganya.

Setelah bertahun-tahun berjuang mengelola sawah dan kebun dengan penuh ketekunan Pak Tani dan Bu Tani telah menikmati hasilnya, rumahnya yang tadinya gedeg sekarang sudah di tembok permanen. Melihat keberhasilannya, tetangga-tetangganya mulai ikut menggarap ladang, yang tadinya tidak terurus. Mereka belajar bertani menggunakan pupuk kandang/alami dari Pak Tani.

Dengan bimbingan Pak Tani lama-lama tanah kebun dan sawah di desa Pak Tani, mulai tumbuh subur lagi, berkat pupuk kandang/pupuk alami pemberian Pak Tani dan Bu Tani yang dermawan. Hasil ladang tetangga Pak Tani, melimpah. Desa Pak Tani hidup kembali, anak-anak ceria sehat-sehat dan semua kebutuhan hidupnya terpenuhi dari hasil ladang.

——-

 

 

Share

About roni