Pak Tua dan Pemuda Gondrong

Penulis: Valentino | Editor: Hamzet

Desa di lereng Gunung )http://3.bp.blogspot.com)

Alkisah di sebuah desa di lereng gunung, hiduplah seorang lelaki tua yang hidup seorang diri karena istrinya sudah lama meninggal. Oleh orang-orang di desa itu, lelaki tua ini dipanggil dengan sebutan Pak Tua.. Pak tua mempunyai seorang cucu laki-laki yang sudah lama pergi merantau ke ibu kota. Sehari-harinya, dari mulai terbitnya matahari, hingga terbenam, pak tua sibuk mengurus ladangnya.  Ladang ini adalah harta satu-satunya yang tersisa dari milik pak tua ini.

Pada suatu sore, ketika pulang dari ladang, pak tua mendadak teringat akan cucu laki-lakinya yang sudah lama tidak bertemu. Pak tua merasa sangat rindu dengan cucunya yang bernama Roni itu. Pak tua bertekad untuk mencari cucu kesayangannya itu ke ibu kota.

Ketika musim panen datang, pak tua menjual seluruh hasil ladangnya untuk modal pergi ke ibu kota.  Dengan berbekal uang seadanya, pak tua berpamitan kepada para tetangganya dan segera pergi meninggalkan desa yang sangat dicintainya itu.

Disepanjang perjalanan, pak tua sibuk membayangkan betapa sebentar lagi dia akan bertemu dengan Roni, cucu kesayangannya tersebut. Hatinya sangat bersukacita dan bahagia, sehingga tanpa disadarinya bis yang ditumpanginya sudah memasuki terminal terakhir tempat pak tua harus turun.

Dengan berbekal foto satu-satunya dari cucunya itu, pak tua bertekad akan menemukan Roni dan mengajaknya untuk pulang kembali ke desa tercintanya.

Pak Tua dan Roni waktu kecil (http://picture-book.com/)

Saat menginjakan kakinya untuk pertama kali di ibu kota, pak tua merasa sangat bingung dengan keadaan di sekelilingnya. Dimana setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing dan sama sekali tidak perduli dengan kehadiran orang lain. Pak tua berpikir ” Kemana harus kucari si Roni itu??, sedangkan aku tak tau dimana dia tinggal..” karena asyik berjalan sambil melamun, pak tua tidak menyadari ketika sebuah metromini dengan kecepatan tinggi sedang melaju kearahnya.. Sontak orang-orang berteriak untuk memberitahukan pak tua tersebut. Tetapi karena pak tua begitu asyik berpikir, dia tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam dirinya tersebut.

Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar menarik dirinya hingga ke sisi kiri jalan sehingga metromini yang dikendarai secara ugal-ugalan itu tidak menabrak dirinya.. Pak tua sangat terkejut..” Hey orang tua, apa sudah bosan hidup yaa!!??!!” kata orang itu. Pak tua yang sudah pulih dari rasa terkejutnya, mengangkat kepala dan melihat seorang laki-laki bertubuh kekar, bertato dan berambut gondrong sedang menatap galak padanya.. “terima kasih.. kamu sudah meolong saya” kata pak tua terbata-bata.. “Orang tua!..ini kota besar.. kalau jalan hati-hati.. !!” kata orang itu lagi.

Pak tua itu berlutut dan membereskan barang-barang miliknya yang terjatuh dan berserakan di trotoar jalan karena kejadian tadi.. Melihat kejadian tersebut, pemuda gondrong itu merasa iba. “hey..orang tua!. apa kamu baik-baik saja?” dia bertanya sambil ikut berjongkok dan membantu pak tua membereskan barang-barangnya. Pak tua mengangkat kepalanya dan berkata: “Saya baik-baik saja anak muda, terima kasih atas pertolongannya.”

“Apa yang bapak lakukan disini??” tanya pemuda gondrong itu sambil memperhatikan baju sederhana yang dikenakan pak tua itu. “Bapak datang kesini karena ingin mencari cucu bapak yang sudah lama pergi dari desa. Sejak orangtuanya meninggal,  cucu bapak memutuskan untuk mengadu nasib ke ibu kota. Bapak sudah berusaha untuk mencegahnya karena dia masih sangat muda, tetapi cucu bapak marah besar dan kabur dari rumah. Sampai saat ini, setelah hampir 25 tahun mengembara, tak pernah sekalipun dia mengirim kabar kepada bapak. Bapak sangat kawatir dan merindukan dirinya..” kata pak tua dengan mata berkaca-kaca.

Si Gondrong yang baik (http://i592.photobucket.com)

Mendengar kata-kata pak tua itu, pemuda gondrong itu tertegun sejenak kemudian berkata: “Jika bapak begitu mencintai cucu bapak, mengapa bapak harus menunggu 25 tahun untuk mencari dirinya?” Pak tua diam sejenak, kemudian mulai bercerita.. “Setelah bapak tau kalau cucu bapak itu kabur dari rumah, bapak berusaha mencarinya keliling desa, ke tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Dari seorang temannya, bapak baru tahu kalau cucu bapak pergi ke ibu kota.

Bapak segera pulang ke rumah untuk mengambil seluruh tabungan bapak untuk menyusulnya ke ibu kota. Tetapi seluruh tabungan bapak yang bapak kumpulkan sedikit demi sedikit untuk biaya cucu bapak sekolah, sudah habis diambil cucu bapak. Bapak sudah tak punya apa-apa lagi untuk dijual agar dapat mempunyai modal yang cukup untuk menyusul cucu bapak. Akhirnya bapak hanya bisa menahan kerinduan bapak dan berdoa agar suatu hari bapak dapat menyusul cucu bapak tersebut. dan Tuhan menjawab doa bapak itu hari ini, setelah tabungan bapak cukup, bapak segera berangkat ke ibu kota untuk menjemput cucu bapak. Tetapi sampai di ibu kota bapak bingung. Dimana harus bapak cari cucu bapak itu.” kata pak tua sambil menatap ke atas.

Setelah mendengar cerita pak tua itu, mendadak pemuda gondrong yang terlihat sangar dan menakutkan itu, menitikkan air mata dan segera memeluk pak tua itu.. “Kakek.. akulah Roni.. cucumu.. Maafkan aku karena selama ini aku tidak pernah memberi kabar.. Aku pikir kakek pasti sangat membenci diriku karena telah mengambil seluruh tabungan kakek untuk bekal aku ke ibu kota.. aku sangat menyesal kek..!!” Mendengar hal itu, pak tua hanya bisa menangis dan bersyukur karena penantian dan kerinduannya kepada cucu tersayangnya selama ini tidak sia-sia.. Akhirnya pak tua dan Roni kembali ke desa dan hidup bahagia selamanya….

si Gondrong dan Pak Tua (gambar oleh Valentino)

Pesan moral dari cerita diatas: Kasih orang tua sepanjang masa.. walaupun kita kadang nakal dan menyakitkan mereka, tetapi kasih orang tua selalu tulus. Harta yang paling berharga adalah keluarga.

 

Share

About roni