Rumah Misteri Nenek

Penulis: Andybwalker dan Incubus |Editor: Afandi

 

Rumah nenek (http://2.bp.blogspot.com)

Pulang ke rumah setelah sekian lama membuatnya bahagia. Kawan-kawan lamanya pasti sudah memiliki banyak keturunan dan menyebar ke pelbagai tempat. Rasanya tidak sabar lagi untuk sampai di rumah dan bertemu nenek dan kawan-kawannya.

Rumah nenek termasuk rumah yang dijauhi oleh anak-anak sekampung, padahal Kelana paling suka datang mengunjungi nenek Hati yang sampai pada usia tuanya tetap memelihara sendiri kebunnya yang selalu tampak hidup, hijau, selalu berbuah dan berbunga, menebarkan keharuman yang penuh pesona serta ceria dengan para penghuni di dalam kebunnya.

Tetapi entah mengapa tidak ada seorang anakpun yang tergoda untuk datang mencuri buah-buahan yang begitu ranum menggoda. Kelana sendiri tidak begitu memahaminya dulu, tetapi saat usianya bertambah Kelana semakin memahami dan lebih menyukai rumah nenek Hati dan kebunnya yang unik ini.

Sampai sekarang Kelana masih mengingat pengalaman itu.

“Tidak apa-apa, Kelana… Tidak apa-apa… mulai sekarang kamu tinggal bersama nenek, walaupun jauh dari kota, di rumah ada banyak kawan yang akan menemanimu bermain dan membantumu belajar”, pelukan dan kata-kata nenek yang tegas malah membuatnya merasa aman dan diterima dengan tangan terbuka.

Rumah Nenek kali ini tampak berbeda dari terakhir dikunjunginya saat kedua orang tuanya masih hidup dan Kelana sadar bahwa itu baru tiga bulan yang lalu. Nenek menepuk pundaknya dengan pelan dan Kelana mengangkat wajahnya memandang Nenek dan berusaha tersenyum di tengah-tengah air matanya.

“Nyonya membawa seorang anak…”

“Nyonya membawa seorang anak…”

“Nyonya membawa seorang anak…”

“Itu Kelana, cucu Nyonya yang sering datang bersama orang tuanya…”

“Anak yang itu…”

“Anak yang itu…”

“Anak yang itu…”

Terdengar bisik-bisik yang menjalar di sekitar rumah tanpa terlihat wujud mereka dan biasanya Nenek mengerutkan keningnya sebentar lalu suasana menjadi tenang. Suara-suara yang tidak pernah didengar Kelana saat liburannya bersama ayah dan ibunya ke rumah Nenek ini.

“Sebaiknya kau istirahat dulu di kamarmu, sehingga besok pagi kamu bisa bangun pagi dan kalau mau bisa membantu Nenek di kebun…”

Kelana mengangguk dan nenek menyelimutinya sampai ke dagu sebelum membelai-belai rambutnya, “Tidurlah, nak… kamu tidak akan sendirian…”

Dengan kata-kata Nenek, Kelana tertidur dengan pulas, entah karena kelelahan ataupun kecemasan selama beberapa bulan ini berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lain sebelum berakhir di rumah nenek.

“Belum bangun?”

“Masih mau tidur?”

“Apa perlu dibangunkan?”

“Si Jalu sudah membangunkan seisi rumah dan mungkin juga tetangga….”

“Keluarga Yamyam sudah dari tadi keluar dari rumahnya begitu juga keluarga Alabio, keluarga Rungrung, bahkan si pemalas Dulmet sudah mulai berkeliling di halaman…”

“Tetapi, menurut Nyonya, sudah lama anak itu tidak tidur dengan benar…”

“Bangunkan saja…”

“Bangunkan saja…”

“Sebaiknya dibangunkan saja…”

“Saya sudah bangun, kok… dengan keributan seperti ini, mustahil bisa terus tidur… hemmmm Nenek dimana?” Kelana membuka jendela kamarnya dan menatap dengan setengah mengantuk kepada kelompok orang yang berbentuk tidak jelas di depan jendela kamarnya yang terdiam karena terkejut… Kelana mengucek matanya dan mengangguk sopan lalu menutup jendelanya lagi rapat-rapat…

“Nnn…neneeeeeek!”

***

Nenek tertawa mendengar cerita Kelana yang terbangun karena keributan para penghuni kebunnya di balik jendela kamarnya, “Ah… mereka memang sangat ingin tahu siapa yang kubawa ke rumah ini…”

“Tetapi setiap libur saya tidak pernah melihat mereka…” bantah Kelana yang membuat Nenek tersenyum.

“Tidak. Karena kau hanya tamu waktu itu. Sekarang berbeda, karena sekarang ini adalah rumahmu, tentu saja bedanya besar sekali, Kelana… Nah apakah kamu mau membantuku di kebun? Sekolahmu baru mulai hari Senin depan, sementara hari ini masih Jumat dan kamu masih harus menyesuaikan diri dengan rumah ini, hmmm?”

“Saya akan membantumu, Nek…”

Nenek Hati mengangguk puas, “Terima kasih, Kelana, Nenek bisa merasa tenang kalau begitu, ada kamu yang membantu Nenek.”

Nenek mengajaknya ke kebun yang biasa dikunjunginya, Kelana mendapati bahwa kebunnya berbeda dengan kebun yang biasa dikunjunginya saat liburan, ada banyak orang-orang yang sedang bekerja

“Aaaaarrggggh! Pak tua pelit! Pelit-pelit-pelit!… Cuma segini aja masak ngga dikasi?”

“Maksudmu dicuri begitu?” geram seorang lelaki tua bungkuk dengan suara serak.

“Dasar pelit! Kakek tua pelit!” balas anak itu sambil menendang pohon Rambutan yang berbuah ranum dengan kencang, lelaki tua itu mengernyitkan wajahnya menahan sakit seolah-olah dia yang ditendang oleh anak itu.

“Pencuri adalah pencuri dan aku tidak mendengar permintaanmu buat mengambil buah-buahan ini sebelumnya, yang namanya mencuri mengambil tanpa permisi dan tanpa diberi ijin mengambil barang milik orang lain. Kamu sudah mengambil buah-buahan ini tanpa ijin”.

Nenek Hati segera menghampiri keduanya dan Kelana diam di tempatnya berdiri seorang anak perempuan muncul di sebelahnya. “Aku Soka… Kau cucu Nyonya ‘kan?”

Kelana mengulurkan tangannya dan mengangguk, “Iya, namaku Kelana, kenapa dengan anak itu?”

“Dia mencuri buah-buahan yang dirawat oleh Pak Rambutan dengan hati-hati sejak awal musim, terbayang bagaimana kesalnya dia, ada seorang anak mencuri buahnya begitu saja…” jelas Soka

“Dia kan masih anak-anak…” balas Kelana

“Apakah Kelana juga akan mengambil buah atau bunga kami tanpa ijin dahulu karena kamu masih anak-anak?” Soka bertanya dengan lembut.

Kelana menggelengkan kepalanya

Nenek Hati menatap anak laki-laki yang seusia Kelana itu dengan wajah serius, “Ada alasan khusus yang menyebabkan kau mengambilnya tanpa melakukan sesuatu, seperti memintanya dengan baik-baik?”

“Kelihatannya buahnya mengundang untuk dipetik, jadi kuambil saja, kan cuma pohon buah rambutan.” Kata anak itu sambil cemberut.

“Cuma pohon ya…!” Gerutu pak Rambutan dengan mengelus-elus tulang keringnya yang masih terasa sakit.

“Kau sudah memetik rambutan ini, oleh karena itu ambillah dan bawa pulang rambutan ini, tetapi sebelum itu, kau harus bekerja dan membantu Pak Rambutan di halaman ini sebagai bayarannya, datanglah besok pagi membantu kami di sini.”

Anak itu megap-megap memandang antara rambutan ranum ditangannya dan Nenek Hati serta Pak Rambutan bergantian, lalu dia tersenyum dan mengangguk setuju, “Baik besok pagi aku datang membantu di sini.”

Nenek Hati tersenyum, “Bagus, kau sudah berjanji, kalau kau tidak memenuhi janjimu sendiri, kau akan melihat sendiri esok siang, dan sebelum matahari terbenam sebaiknya kau cepat-cepat kembali kesini. Mengerti?”

Anak itu segera pergi meninggalkan halaman dengan rambutan ranum di tangan dengan wajah gembira, tanpa mengucapkan terima kasih dan kelihatannya tidak begitu peduli bahwa dia harus kembali keesokkan harinya untuk membantu bekerja di halaman rumah Nenek Hati.

***

Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Kelana sudah terbangun tanpa merasa ketakutan lagi melihat “keanehan” penghuni halaman Nenek Hati. Dia bekerja dengan senang hati dan membuat teman-teman baru di halaman itu. Dan dia mendapati bahwa anak kampung kemarin tidak menampakkan batang hidungnya bahkan sampai matahari mulai tinggi dan dia mulai menyelesaikan pekerjaannya di halaman itu, anak itu tak jua muncul.

“Sudah kami duga, anak itu pasti tidak akan kembali lagi hari ini, tetapi siapapun yang memakan buah, memetik bunga ataupun daun kami, tidak bisa tanpa melakukan sesuatu bagi kami… Manusia kadang lupa bahwa kami butuh dirawat, diperhatikan dan diberikan kasih saying sehingga kami memberikan hasil yang terbaik.” Kata Soka dengan wajah sedih

Kelana meminta ijin untuk berjalan-jalan naik sepeda melihat kampung tempatnya tinggal kini, dan melihat di mana sekolahnya nanti berada, sehingga dia tidak tersesat dan kesiangan sampai di sekolah. Sepanjang perjalanan dia menyadari bahwa banyak orang yang menyapanya dengan ramah. Orang-orang yang seperti penghuni “halaman” Nenek dan Kelana mengangguk membalas sapaan ramah mereka walaupun dia merasa aneh sendiri.

Kemudian dia melihat anak yang kemarin pagi mengambil rambutannya Pak Rambutan tanpa ijin, dan dia melihat keanehan terjadi pada anak itu. Dari keningnya muncul dua buah sungut kecil seperti sungut semut hitam.

“Oiii!” Panggil Kelana keras, “Oiii… anak yang kemarin di halaman nyolong rambutan!”

Anak itu tidak menoleh dan pura-pura terus berjalan. “Oiiii! Kamu!” Kelana mengayuh sepedanya dan mengejar anak itu.

“Ada apa sih? Siapa yang nyolong rambutan? Aku dikasih kok sama nenek-nenek yang tukang kebonnya pelit dan jahat!”

“Kau ‘kan janji mau datang membantu di halaman tadi pagi, kok ngga datang?”

“Siapa yang mau bangun pagi-pagi? Kan udah dikasi sama si nenek, ngapain aku musti membayar rambutan yang ngga enak itu?” Elak anak itu dengan mulut cemberut

“Kamu ngga ngaca?” desak Kelana

“Ngga ada apa-apa dengan aku kok, kamu ini ngapain sih? Kamu pekerja juga ya di sana?”

“Kamu punya mulut dua biji di kepalamu, ngga sadar?”

“Apaan sih? Ini kan poniku? Sudah sana pergi deh” usir anak itu dengan tampang menghitam.

“Oiiii… Nenek Hati bilang kalau kamu ngga datang sebelum matahari terbenam, kamu sudah terlambat loh….”

“Aku gak peduli… rambutan ngga enak gitu ngapain aku harus bayar?”

Kelana menatap anak itu dengan putus asa, sungut anak itu semakin terlihat dan anak itu mulai terlihat bungkuk dan pantatnya membesar seperti pantat semut super raksasa.

“Dia bakal jadi semut menjelang petang, dan bekerja untuk membantu penyerbukan buah rambutan di pohon Rambutan.” Kata Soka yang tiba-tiba ada di sebelahnya.

“Dia tidak mengucapkan terima kasih, baik itu kepada Pak Rambutan atau kepada Nenek dan dia malah mencela buah pak Rambutan yang sudah susah payah dibuahkan”

Soka menaiki sadel belakang sepeda Kelana dan tersenyum, “Ayo pulang… Nenek sudah menunggumu dengan pisang rebus, Bu Kepok ingin kau memakan buahnya sore ini…”

Kelana mengangguk dan mulai mengayuh sepedanya pulang ke rumah Nenek Hati.

***

 

Share

About roni