Ubur-Ubur dan Keong

Penulis : Albertus Fiharsono   I Editor: Dian

Gambar : R-82

Dusa, seekor ubur-ubur, sangat bangga dengan kecepatan renangnya. Dia sering menantang teman-temannya untuk balapan renang dengannya. Dusa pun selalu menang. Penghuni laut pun mengagumi kehebatannya.

Dusa sedang berenang dan bermain-main ketika bertemu dengan Nudi, seekor keong kecil, yang sedang bergelayut pada batang rumput laut. “Hai, Nudi, kamu sedang apa?” tanyanya.

“Aku sedang berlari, Dusa,” jawab Nudi sambil merambat di batang rumput laut.

“Lari…?? Hahahaha…. Merambat seperti itu kamu bilang lari…??”

“Aku memang tidak bisa berlari atau berenang secepat kamu, Dusa. Aku hanya bisa merambat, tetapi ini sudah sangat cepat bagiku.”

“Sangat cepat…? Hahaha…. Aku ingin menguji kecepatanmu kalau begitu. Ayo kita balapan.”

“Untuk apa kita balapan, Dusa? Semua penghuni laut sudah mengakui kehebatanmu.”

“Aku ingin membuktikan sekali lagi kepada semua penghuni laut bahwa aku memang hebat.”

“Tidak ada yang istimewa jika kamu menang melawan aku, Dusa. Aku hanya keong kecil yang lemah. Tetapi kalau kamu sampai kalah, kamu justru akan sangat malu.”

“Kamu bilang saya bisa kalah darimu..??!!” Dusa tampak marah. “Kamu meragukan kemampuanku, Nudi!!”

“Bukan itu maksudku, Dusa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi di dunia ini.”

“Kamu harus tahu, Nudi, ada satu yang tidak mungkin terjadi, yaitu keong kecil dan lemah sepertimu mengalahkan aku.”

“Baiklah, Dusa, jika itu keyakinanmu. Tapi aku tidak mau balapan denganmu. Aku mengakui kehebatanmu.”

“Tidak bisa, Nudi,” tegas Dusa. “Karena kamu sudah menyepelekan kemampuanku, kamu harus bertanding denganku!”

Dusa pun memanggil Pino, si kura-kura, untuk menjadi wasit pertandingan. Ikan-ikan pun langsung berkumpul di area balapan itu. Mereka ingin melihat kehebatan Dusa.

Dusa dan Nudi mulai bersiap-siap. Ikan-ikan mulai meneriakkan nama Dusa, “Hidup Dusa!! Hidup Dusa!!!”

Sambil tersenyum lebar, Dusa menyambut teriakan itu dengan lambaian tangannya.

“Hadirin sekalian,” Pino mulai membuka pertandingan, “hari ini kita akan menyaksikan balap renang antara Dusa dan Nudi…!!”

Penonton menyambut dengan tepuk tangan meriah, sambil meneriakkan nama Dusa. “Peserta yang lebih dulu sampai di pulau kecil itu, dialah pemenangnya,” kata Pino lagi sambil menunjuk ke arah pulau  yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka. “Dusa, Nudi, apakah kalian sudah siap?”

“Saya sudah tidak sabar untuk menunjukkan kehebatan saya, Pino,” jawab Dusa tegas.

Penonton pun kembali bertepuk tangan meriah.

“Nudi, kamu siap?” tanya Pino kepada Nudi yang tampak diam tertunduk. Nudi pun hanya menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, mari kita mulai.”

Pino memotong batang rumput laut sebagai bendera. “Bersediaaa…, siaaaapp…, mulaiiiiii…!!!!!”

Dusa melesat, berenang dengan sangat cepat. Dalam sekejap dia sudah hampir tak terlihat. Sementara itu, Nudi, yang tidak pandai berenang, masih bergelayut pada batang rumput laut. Nudi takut terhempas oleh ombak jika ia melepaskan pegangannya. Apalagi tubuhnya sangat kecil.

Tiba-tiba, apa yang ditakutkan Nudi benar-benar terjadi. Ketika ia mulai melepaskan pegangannya, ombak besar tiba-tiba datang dan menghantamnya. Ia pun menjerit ketakutan. Tubuh kecilnya terhempas, terguling-guling, terbawa ombak. Ia tak sadarkan diri, tak tahu lagi apa yang terjadi.

Ketika tersadar, ternyata ia sudah berada di sebuah daratan. Ya, dia terlempar ke sebuah daratan. Sayup-sayup dia mendengar teriakan ikan-ikan dari pinggir pantai, “Hidup Nudi…!! Hidup Nudi…!!”

Ia sangat bingung, tidak mengerti apa maksud teriakan mereka. Lalu Pino muncul dari dalam air dan menghampirinya. “Selamat, Nudi. Kamu pemenangnya.”

“Apa…?? Saya pemenangnya?” tanya Nudi tak percaya.

“Betul. Kamu lebih dulu sampai di pulau ini.”

“Tidak bisa!!” Tiba-tiba Dusa berteriak dari dalam air. “Dia tidak berenang, dia hanya terhempas oleh ombak. Bukan dia pemenangnya, tetapi aku!”

Namun ikan-ikan yang berkumpul di pinggir pantai itu tak menggubris Dusa. Mereka tetap meneriakkan nama Nudi. Ikan-ikan itu pun kemudian mengarak Nudi kembali ke laut sambil terus meneriakkan namanya.

Dusa pun menjadi sangat marah. Ia lalu menyambar Nudi dan mencengkeramnya. “Aku akan menelanmu, Nudi…!!” kata Dusa sambil membuka mulutnya.

“Jangan, Dusa!!” Sergah Pino. “Kamu akan celaka jika menelan Nudi.”

“Celaka…?! Hahaha… Nudi yang kecil dan lemah ini bisa mencelakaiku…? Tidak mungkin, Pino…!!!”

Dusa pun membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan Nudi bulat-bulat. Tak ada yang bisa mencegahnya.

__________________

Tiga bulan berlalu.

Bersandar di batu karang, Dusa merintih kesakitan.

“Kamu sakit, Dusa?” tanya Pino.

“Perutku sakit sekali, Pino. Seperti teriris-iris pisau… Uuuuh…”

Tak lama kemudian, perut ubur-ubur itu  tampak berlubang. Awalnya kecil, tapi lama-lama lubang itu menjadi semakin besar. Perlahan-lahan seekor keong besar merambat keluar melalui lubang itu. Ya, Nudi, si keong,  ternyata tidak mati. Lambung Dusa, sang ubur-ubur, ternyata tak dapat mencerna cangkang Nudi yang keras. Nudi bertahan hidup di dalam perut Dusa sambil menggerogoti perut Dusa dari dalam.

 

Share

About roni